Rabu, 12 Oktober 2011

Anatomi Perah (susune mbok darmi)



I. PENDAHULUAN

Produksi susu dalam negeri hanya mampu memasok sekitar 30% untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dan Industri Pengolah Susu (IPS), sedangkan sisanya 70% dipasok dari luar negeri. Permasalahan utama persusuan di Indonesia adalah masih rendahnya populasi dan produktivitas sapi perah dalam negeri terutama peternak rakyat serta kualitas susu yang belum memenuhi Standar Nasional Indonesia (Ditjen Bina Produksi Peternakan, 2004).
Perkembangan sapi perah di Indonesia dapat dibagi menjadi dua periode  yaitu periode Pemerintah Belanda  dan periode Pemerintah Indonesia . Masa Pemerintahan Hindia Belanda, peternakan sapi perah umumnya berbentuk perusahaan  susu . Konsumen susu umumnya orang-orang Eropa atau orang-orang asing lainnnya. Pada saat itu orang-orang pribumi tidak menyukai susu dan kalaupun mau kondisi ekonomi tidak memungkinkan untuk membeli susu. Perusahaan susu pada saat itu dimiliki oleh orang-orang Eropa,  Cina, Arab dan India (  Sudono et al; 2003).
Sapi perah Frisian-Holstein mempunyai identitas warna hitam belang putih, kepala berbentuk panjang, lebar dan lurus . Tanduk relatif pendek dan melengkung kearah depan. Temperamennya jinak dan tenang akan tetapi jantannya  ada pula yang galak. Kemampuan berproduksi susu sapi perah Frisian-Holstein dapat mencapai lebih dari 6.000 kg per laktasi dengan kadar lemak 3,6%. Standar bobot badan betina dewasa berkisar antara 570 – 730 kg, sedangkan jantan dewasa minimal 800 kg bahkan dapat mencapai 1 ton  ( Siregar, 1992).
Ada beberapa faktor penyebab rendahnya produksi susu dalam negeri antara lain karena terbatasnya daerah pengembangan sapi perah, kualitas pakan yang kurang baik dan manajemen pemeliharaan yang masih dibawah standar, sehingga produktivitas sapi di Indonesia belum optimal sesuai dengan potensi genetik yang dimiliki (Direktorat Budidaya, 1983) .
Pada sapi perah produksi yang dibutuhkan adalah produksi susu, kualitas air susu dan keteraturan beranak. Karakter produksi susu mempunyai sifat menurun mulai dari produksi tinggi, sedang sampai rendah, hal ini berarti seleksi berdasarkan sapi yang berproduksi tinggi dapat dilaksanakan, meskipun pelaksanaannya membutuhkan waktu yang cukup panjang. Kualitas dan jumlah produksi susu yang mempunyai sifat menurun dapat diperbaiki melalui seleksi (AAK, 1995).
Menurut Adi Sudono et al (2003) bibit sapi perah yang baik harus berasal dari induk yang produktivitasnya tinggi dan pejantan unggul. Hal ini disebabkan sifat unggul kedua tetua akan menurun kepada anaknya.  Akan lebih baik apabila bibit tersebut berasal dari induk yang produktivitasnya tinggi dikawinkan dengan pejantan unggul.  Bentuk ambing pada sapi perah dapat menentukan kualitas dan kuantitas susu yang akan dihasilkan. Ambing yang baik adalah ambing yang besar, pertautan antar otot kuat dan memanjang sedikit ke depan, serta putting tidak lebih dari empat.

II. ANATOMI AMBING

Kelenjar susu, istilah yang dipakai bergantian dengan ambing (udder), merupakan kelenjar dibawah kulit. Pada sapi, kerbau, kuda, kambing dan domba serta ikan paus, ambing terletak disebelah selangkangan, daerah inguinal. Pada gajah dan primata ambing terletak daerah  dada , sedangkan pada babi, pemakan daging dan pada binatang pengerat terletak sejajar memanjang didaerah ventral dari daerah dada dan perut ( Subronto, 1985).  Menurut Frandson (1992) kelenjar mamae merupakan modifikasi kelenjar sudoriferosa (kelenjar keringat). Kelenjar tersebut berkembang disepanjang apa yang disebut garis susu, yaitu berupa garis pada masing-masing sisi dinding abdominal yang paralel dengan garis tengah.

      1.  Dilihat dari Luar
Kelenjar mamae atau ambing sapi terdiri dari 4 bagian. Kulit ambing ditutupi rambut halus tetapi puting sama sekali tidak tertutup rambut.  Setiap bagian dilihat dari jaringan kelenjarnya merupakan suatu kesatuan yang terpisah. Separo bagian kanan dan separo bagian kiri, masing-masing terdiri satu kuarter (seperempat bagian) cranial ambing (depan) dan satu kuarter caudal ambing (belakang) dan masing-masing bagian tersebut lebih kurang merupakan kesatuan sendiri-sendiri. Separo bagian ambing yang satu tidak tergantung pada separo bagian ambing yang lain, khususnya dalam hal suplai darah, suplai saraf dan aparatus suspensoris (Frandson, 1992).
Sedangkan merunut (Bambang, 1977) kelenjar susu sapi sebenarnya merupakan gabungan  empat kelenjar susu  menjadi suatu bangunan yang merupakan ambing kanan dan ambing kiri yang dari luar nampak jelas terpisah. Ambing merupakan kelenjar kulit yang diliputi oleh bulu atau rambut, kecuali pada puting susu tidak ditumbuhi rambut. Ambing terpisah menjadi bagian kanan dan kiri oleh suatu sulcus yang berjalan longitudinal yang disebut sulcus intermamaria. Kadang-kadang bagian depan dan belakang dari ambing dipisahkan oleh suatu sulcus pula, hal ini tidak diinginkan.
Separo bagian kelenjar mamae dapat diambil dengan cara operasi tanpa merusak separo bagian yang lain. Pembagian ambing menjadi empat bagian meliputi jaringan kelenjar dan sistim saluran yang lebih kurang mirip dua buah pohon  yang saling berdekatan dimana ranting serta dahannya saling bertaut, namun masing-masing mempunyai ciri sendiri sendiri. Semua susu berasal dari puting dan diproduksi oleh jaringan kelenjar mamae dari masing-masing satu kuarter ambing.
   Puting susu sapi biasanya ada empat buah, tapi kadang-kadang ada juga terdapat lebih dari empat puting susu, kejadian ini disebut supranumerarytent. Puting susu ekstra ini biasanya terletak disebelah belakang. Sebaiknya  puting yang berlebih itu dihilangkan sebelum pedet mencapai umur satu tahun, hal ini untuk mencegah terjadinya mastitis. Berat ambing tergantung umur, masa laktasi, banyaknya air susu didalam ambing dan faktor genetis. Beratnya berkisar antara 14,4 – 165,7 lbs (Bambang, 1977).
Menurut  Subronto (1985) Ambing kosong pada sapi yang sedang laktasi mempunyai berat 6,5 – 75,3 kg dengan berat rata-rata 22,7 kg. Kapasitas rata-rata 30 kg pada tekanan sedikit kurang dari 5 kg . Berat dan kapasitas ambing mencapai puncaknya pada waktu sapi berumur 6 tahun. Kenaikan kemampuan menampung cairan berbeda pada tiap periode laktasi, namun yang tertinggi terdapat pada periode laktasi pertama dan kedua. Jaringan penyangga ambing seluruhnya berjumlah 7 lapis. Pada bagian luar ambing terdapat jaringan ikat ligamentum suspensorium lateralis yang bersifat fibrous dan kurang elastis. Apabila terlalu banyak jaringan ikat yang terbentuk kemampuan menampung air susu dari sisterna akan menurun. Penyangga utama ambing adalah ligamentum suspensorium laterale et mediale. Kulit luar lebih bersifat sebagai pelindung dari pada sebagai penyangga ambing.
       2.  Struktur Bagian Dalam
      Bagian dalam ambing terdapat ligamentum suspensorium medialis yang memisahkan ambing menjadi bagian kanan dan kiri. Ligamentum ini terdiri atas dua lapisan jaringan ikat padat. Meskipun tidak ada pemisah antara kwartir depan dengan belakang, tetapi sistim ductusnya sama sekali terpisah. Ambing terdiri dari bagian-bagian kecil yang berwarna kemerah-merahan. Bagian-bagian kecil ini yang merupakan sel-sel sekretorik dibungkus oleh kapsula jaringan ikat, sel-sel sekretorik inilah yang mempunyai alveoli. Sejumlah alveoli bergabung menjadi satu dengan perantaraan ductus-ductus dan dibungkus oleh jaringan ikat membentuk suatu bangunan yang disebut lobulus. Segerombolan lobuli dibungkus oleh jaringan ikat sehingga terbentuk lobus (Bambang, 1977).
Munurut Subronto (1985) bagian kelenjar ambing terdiri dari alveoli, tempat pembentukan air susu, lobuli dan lobi. Tinggi rendahnya produksi susu tergantung pada jumlah alveoli yang aktif dan tidak pada saluran ambing. Diameter alveolus dalam keadaan penuh adalah 0,1 – 0,3 mm. Volume maksimum tiap lobulus adalah 1 mm. Air susu yang dihasilkan oleh alveoli akan ditimbun didalam sisterna yang terdiri dari sisterna glanduler (sisterna klaktiferous) dan sisterna puting pada bagian distal terdapat lipatan mukosa, disebut roset Furstenburg,  yang diduga mampu menghalangi keluarnya air susu dari sisterna. Otot sphincter pada saluran puting ini mempunyai peranan dalam mencegah mengalirnya air susu keluar. Pada ujung puting terdapat saluran pendek, yang disebut ujung puting, ductus papillaris atau streak canal, yang permukaannya selalu mengalami keratinasi. Pada induk-induk muda saluran ujung puting merupakan penghalang ( barier) yang efektif masuknya kuman kedalam sisterna.
 
      3.  Sistim Saluran
Lobi dibungkus oleh saluran-saluran yang bermuara pada saluran yang lebih besar. Saluran-saluran yang lebih besar ini menuju ke saluran induk (major ductus) yang kemudian bermuara di sinus lactiferous (gland cisterna) diatas putting susu. Seluruh system saluran dan sinus lactiferous mengalirkan/membawa air susu dari sel-sel sekretorik menuju ke puting susu (teats), yang kemudian dapat diambil/dikeluarkan air susunya dengan jalan pemerahan. Saluran-saluran dan gland cisterna juga berfungsi sebagai penampung air susu untuk sementara waktu sebelum pemerahan. Hal ini memungkinkan ambing mensekresikan lebih banyak air susu dibanding yang dapat disekresikan sel-sel sekretorik saja. Pada tempat-tempat percabangan dari saluran, biasanya terdapat lubang yang sempit kemudian membentuk semacan sinus sebelum mejadi sempit lagi. Pada beberapa kejadian  ductus bercabang menjadi dua buah yang sama ukurannya. Adanya penyempitan pada percabangan ini untuk mencegah mengalirnya air susu karena adanya gravitasi kearah puting susu dan gland sistern (Bambang , 1977).
Menurut Frandson (1992) Streak canal pada ujung puting dikelilingi oleh sfingter yang tersusun dari serabut-serabut otot polos sirkuler. Pada sapi-sapi yang sulit diperah (hard milker), sfingter tersebut amat ketat, sedangkan yang cenderung bocor, sfingter tersebut tidak ketat. Sfingter yang kuat dapat diperbaiki melalui pembedahan, tapi mastitis selalu dimungkinkan timbul mengikuti operasi ambing atau puting tersebut.
Saluran-saluran yang besar pada bagian bawah dari kwartir depan mengelompok pada permukaan lateral, sedangkan pada bagian atas dari kwartir depan maupun belakang distribusi dari saluran-saluran itu lebih uniform. Saluran-saluran yang besar mempunyai tendensi memendek dan melebar, sedangkan saluran-saluran yang lebih kecil lebih membulat. Biasanya terdapat 10 sampai 12 saluran menuju ke tiap-tiap gland cistern, paling banyak terdapat 20 buah tetapi kadang-kadang dijumpai lebih banyak lagi (Bambang, 1977)
 4.  Gland Cistern
Ukuran dan bentuk dari sinus lactiferous untuk tiap-tiap kwartir sangat bervariasi. Pada beberapa hal cistern ini sirkuler, pada kejadian lain nampak tidak lebih hanya berupa saku-saku dari berbagai ukuran sebagai akhir dari saluran induk. Kapasitas dari sinus lactiferous adalah 100 – 400 gram air susu. Menurut penelitian ternyata tidak ada hubungan yang nyata antara ukuran gland cistern dengan jumlah air susu yang disekresikan oleh kwartir-kwartir. Tekanan yang timbul karena akumulasi air susu didalam putting susu dan gland cistern menyebabkan plica meregang yang membantu retensi air susu.

      5.   Aparatus Suspensioris.
Aparatus suspensioris ambing terdiri daeri ligament suspensoris medial dan ligament suspensoris lateral (Gambar 2). Ligamen suspensoris  medial mengandung banyak jaringan elastis kuning sebab jaringan tersebut berasal dari tunica abdominal yang merupakan modifikasi dari fasia (jaringan pengikat) yang menutupi permukaan superfisial otot oblik abdominal eksternal. Ligamen suspensoris medial ini turun antara dua bagian ambing (masing-masing separo bagian ambing). Dua lapisan ligament tersebut dapat dipisahkan dengan mudah, karena keduanya hanya diikat dengan sejumlah kecil jaringan pengikat areolar yang longgar. Hampir tidak ada pembuluh darah atau saraf melewati ligament medial dari sebagian (masing-masing separo bagian) ambing ke bagian ambing yang lain (Fransdson, 1992).
Menurut Bambang (1997) pada sapi Holstein terdapat 7 buah jaringan penunjang yaitu:
1.   Jaringan 1 (tissue 1)
      Jaringan ini berupa kulit, meskipun perannya kecil sebagai jaringan penunjang dan stabilisator ambing, tetapi perannya sangat besar sebagai jaringan pelindung bagian yang lebih dalam.
 2.  Jaringan 2 (tissue 2)
Merupakan jaringan yang mengikat kulit dengan lapisan dibawah adalah jaringan 2 disebut fascia superfisialis.
            3.  Jaringan 3 (tissue 3)
Merupakan jaringan yang menyerupai tali yang membentuk ikatan longgar antara permukaan dorsal dari jaringan ini dari kwartir depan dan dinding perut.
4.      Jaringan 4 (tissue 4) .
Marupakan pasangan dari lapisan supertificialis dari ligamentum suspensorium superficialis dan sebagian terdiri atas jaringan elastis. Ligamenta ini muncul dari tendo subpelvis dan meluas kearah bawah depan meliputi ambing dan membelok ke permukaan dalam dari paha. Lapisan ini sangat dekat dengan garis median pada ambing belakang dan kemudian menyebar keluar kearah bagian anterior dari ambing. Ligamenta ini merupakan salah satu jaringan penunjang utama dari ambing.
5. Jaringan 5 (tissue 5). Pasangan bagian dalam yang tebal dari ligamenta suspensorium merupakan jaringan 5 yang asalnya juga dari tendo subpelvis. Lapisan  lateral bagian dalam ini meluas kearah bawah dan meliputi ambing. Jaringan ini terikat dengan permukaan lateral dari ambing yang konveks dengan perantaraan lamellae yang menuju ke dalam dan bersambungan dengan jaringan interstisiil dari ambing. Jaringan penunjang ini merupakan jaringan penunjang ambing utama.
       6.  Jaringan 6 (tissue 6). Ini adalah merupakan tendo subpelvis, yang sebenarnya bukanlah jaringan penunjang ambing, tetapi merupakan tempat asal dari lapisan superfisialis dan profunda dari ligamenta suspensoria lateralis.
       7. Jaringan 7 (tissue 7). Dua buah jaringan yang berdekatan yang terdiri atas jaringan elastis yang tebal dan berwarna kuning membentuk ligamentum suspensorium medialis merupakan jaringan 7. Ligamentum ini berasal dari dinding perut dan terhambat   pada   permukaan medial dari ambing (Bambang.,1977).

III. SUPLAI DARAH PADA AMBING

Suplai darah ke ambing sebagian besar melalui arteri pudental (pudik) eksternal (Gb. 2), yang merupakan cabang dari pudendoepigastrik. Arteri pudentaleksternal bergerak kearah bawah melalui kanalis inguinalis yang berliku-liku dan terbagi menjadi cabang-cabang kranial dan kaudal yang mensuplai bagian depan dan belakang kuarter ambing pada sisi yang sama dari arteri tersebut. Arteri kecil yang mungkin tunggal atau sepasang yaitu arteri parineal yang bersambung dengan arteri pudental internal dan bergerak ke arah bawah dari vulva yang terletak cukup dalam pada kulit di garis median. Arteri parineal umumnya mensuplai sejumlah kecil darah kebagian kaudal dari kedua bagian (masing-masing separo bagian ) ambing.
 Aliran vena dari ambing kebanyakan melalui lingkaran vena pada dasar ambing yang melekat pada dinding abdominal. Lingkaran vena dibentuk dari vena-vena utama yang mengaliri ambing. Vena pudental eksterna menerima darah dari kedua bagian kuarter ambing, baik kranial maupun kaudal dari sisi yang sama. Kearah kranial masing-masing vena pudental eksternal bersambung dengan vena epigastrik superficial kaudal (subkutaneus abdominal) tepat pada atau didepan ambing, mengakiri lingkaran vena. Masing-masing vena sub kutaneosa abdominal merupakan vena yang berliku-liku, pada sapi yang memproduksi susu banyak. Vena tersebut berjalan kearah depan di dalam bidang sagital dari lateral sampai garis tengah dinding abdominal sebelah ventral (Frandson, 1992).
 
            Pembuluh-pembuluh Limfa
  Pembuluh-pembuluh limfa mengaliri ambing tampak pada permukaan, dibawah kulit, terutama pada sapi yang produksi susunya banyak. Pembuluh limfa tersebut mengalir dari seluruh ambing, meliputi puting susu , sampai ke inguinal superficial (mammary atau supra mammary) nod lymphatikus berada di dekat lingkaran inguinal superficial (eksternal) diatas bagian kaudal dari dasar ambing (Frandson, 1992).

IV.  HISTOLOGI KELENJAR SUSU
       1.  Alveolus
       Komponen utama dari jaringan sekretorik adalah alveolus. Tiap-tiap alveolus berbentuk bulatan dan tersusun atas satu lapis sel epitel yang meliputi suatu rongga yang disebut lumen. Sel-sel epitel bersandar pada membrana propria. Air susu dari sel epitel disekresikan kedalam lumen alveoli dan dialirkan kedalam saluran kecil yang disebut ductus intercalaris. Ductuli ini tergabung membentuk ductus intralobulair. Sel-sel myoepitel terletak diantara membrana propria dan sel-sel epitel. Myoepitel bila diaktivir oleh oksitosin akan berkontraksi menyebabkan air susu dalam alveoli terperas keluar dan ditampung dalam lumen. Tiap-tiap alveolus dikelilingi oleh kapiler-kapiler darah yang membawa darah yang mengandung bahan-bahan pembentuk air susu “milk precursors”, kedalam sel epitel untuk sintesa air susu (Bambang, 1977).

      2.   Lobuli dan Lobi
Sekelompok alveoli yang terletak sacara fungsional dalam satu unit disebut lobulus, yang mempunyai ductus dan dibungkus oleh kapsula jaringan ikat. Sebuah lobulus dari sapi yang laktasi terdiri atas 150-220 alveoli dan mempunyai volume sebanyak 0,7 – 0,8 mm3. Segerombolan lobuli bergabung menjadi satu dan mempunyai ductus yang lebih besar. Lobuli-lobuli membentuk lobus dan dibungkus oleh bungkus jaringan ikat. Pada sapi jaringan ikat ini nampak berwarna putih sedangkan jaringan sekretorik berwarna seperti daging atau ke-kuning-kuningan. Perbedaan warna ini dapat dilihat dengan mata telanjang pada penampang lintang dari kelenjar susu (Bambang, 1977).
       3.   Ductus
 Adanya lobi dan lobuli dan ductus-ductusnya memudahkan identifikasi dari ductus intralobulair (dalam lobulus), ductus interlobulair (diantara lobulus), ductus intra lobus (dalam lobus) dan ductus intra lobus (diantara lobus). Pembatasan dari ductus tergantung dari lokasinya didalam kelenjar susu. Ductus-ductus yang kecil (ductus intercalaris dan intralobulair) terdiri atas membrane propria yang mempunyai lapisan epitel kolumner yang membentuk ductus lumen menjadi bulat. Permukaan membrana propria dikelilingi oleh sel-sel myoepitel sepanjang sumbu dari ductus. Ductus interlobulair mempunyai struktur dan tampak luar yang sama dengan ductus intralobulair. Para ahli menganggap bahwa ductus yang mempunyai satu lapis sel-sel epitel mampu mengadakan sekresi air susu. Ductus-ductus yang besar mempunyai lebih dari satu lapis sel epitel. Sel-sel epitel kuboid bersandar pada membrane propria dan diliputi oleh lapisan dalam dari sel-sel epitel kolumner. Seluruh epitel ductus dan cistern dari sapi diliputi oleh sel-sel myoepitel yang nampaknya sedikit lebih tebal dan padat dibanding dengan alveoli. Makin besar suatu ductus, makin tebal lapisan jaringan ototnya, tetapi makin kecil lapisan jaringan ikatnya.  Berkas-berkas elastis mengelilingi saluran-saluran susu baik yang besar maupun yang paling kecil (ductuli). Banyaknya jaringan elastis yang mengelilingi saluran  susu pada ductus-ductus yang besar dan lebih sedikit terdapat ductus-ductus yang kecil ukurannnya menjadi sangat jarang pada ductus intercolaris (Bambang, 1997).

4.   Teat dan Gland Sistern.
Teat dan Gland cistern seperti pada ductus-ductus yang besar dibatasi oleh dua lapis sel –sel epitel. Lapisan dalam tersusun atas sel-sel kuboid dan lapisan atasnya terdiri atas sel-sel silindris. Sel-sel itu bersandar pada lapisan jaringan ikat longgar. Berkas-berkas otot campuran sangat banyak didaerah ini dan terdapat pula beberapa berkas otot yang longitudinal. Glandula accossorius yang kecil dijumpai pada dinding dari teat cistern dan gland cistern pada sapi. Kelenjar ini kecil dan nampak seperti lobuli dari jaringan sekretorik. Glandula accessories tersusun atas bangunan yang seperti alveoli kecil yang mempunyai lumen dan sel-sel epitel kuboit (Bambang, 1997).
 5.   Epitel, Otot dan Struktur dari Puting Susu .
Epitel yang membatasi teat meatus serupa dengan epidermis dari kulit putting, kecuali stratum corneum dari teat meatus sangat lebih tebal. Didalam kelenjar susu terdapat transisi dari epitel berlapis-lapis yang membatasi teat meatus menjadi epitel satu lapis yang membatasi lumen dari alveolu. Material yang membatasi teat meatus terdiri atas keratin. Ini merupakan bagian dari stratum corneum yang membatasi teat meatus yang melepaskan diri kedalam lumen dari teat meatus. Keratin putting peranannnya didalam mencegah masuknya bakteri penyebab mastitis. Lapisan dibawah keratin dalam otot meatus sama dengan yang terdapat pada epidermis.
Dinding dari puting susu sapi terdiri atas sejumlah besar jaringan ikat elastis yang berselang seling dengan berkas-berkas otot dimana didalamnya banyak sekali berkas-berkas yang longitudinal. Bagian tengah dari dinding puting susu yang disebut corpus cavernosum merupakan daerah yang kaya akan pembuluh limfe. Vena sangat banyak didaerah ini yang sangat sukar dibedakan dengan arteri karena dindingnya sangat tebal. Perbedaan pokok antara arteri dan vena didaerah ini yaitu bahwa arteri mempunyai lumina yang membulat, sedangkan vena pipih. Disamping itu arteri tidak punya kelep, vena banyak mengandung kelep (Bambang , 1977).


DAFTAR PUSTAKA


AAK. 1995. Petunjuk Praktis Beternak Sapi Perah. Penerbit Kanisius, Yogyakarta.

Bambang Wilkanta. 1977. Biologi Laktasi. Gajah Mada University Press, Yogyakarta.

Direktorat Budidaya.2003. Pedoman Teknis Model Pengembangan Ternak Perah. Direktorat Jenderal Bina Produksi Peternakan, Jakarta.

Direktorat Jenderal Bina Produksi Peternakan. 2004.  Statistik Peternakan Tahun 2004 Statistical on Livestock 2004. Direktorat Jenderal Bina Produksi Peternakan, Jakarta.

Frandson, R.D.1992. Anatomi dan Fisiologi Ternak. Gajah Mada University Press, Yogyakarta.

Subroto.1985. Ilmu Penyakit Ternak. Gajah Mada University Press, Yogyakarta.

Sudomo, A , R.F. Rosdiana, B.S. Setiawan. 2003. Beternak Sapi Perah Secara Intensif. Agro Media Pustaka,  Bogor.













                 
     


Tips Sehat Alami


0 komentar:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Total Tayangan Laman

Copyrights  © edna disnak 2012 and introducing Panasonic S30

Back to TOP