Rabu, 20 April 2011

Inseminasi Buatan Pada Sapi Perah


Inseminasi Buatan (IB) adalah proses koleksi semen dari pejantan, pemrosesan, penyimpanan yang selanjutnyab secara buatan dimasukkan pada saluran reproduksi betina untuk menghasilkan kebuntingan. IB telah menjadi salah satu teknik yang sangat penting untuk meningkatkan mutu genetik ternak. IB telah digunakan secara luas pada breeding sapi perah dan telah menghasilkan ternak dengan genetik yang sangat berkualitas.
Sejarah IB
Anthony Van Leeuwenhook penemu mikroskop merupakan orang yang pertama kali mengamati spermatozoa dengan pembesaran di bawah mikroskop. Hal ini memicu adanya penelitian-penelitian lanjutan. Sedangkan Spallanzani dianggap sebagi penemu inseminasi buatan karena laporan ilmiahnya yang berjumlah 1780 telah menunjukkan adanya kesuksesan dalam melakukan inseminasi buatan pada anjing.
Pada tahun 1899, Ivanoff dari Rusia memelopori penelitian IB pada burung, kuda, sapi dan domba. Ia dikenal sebagai orang pertama yang sukses melakukan IB pada sapi. Breeding Sapi Mass di Rusia merupakan breeding yang pertama kali menerapkan IB dengan hasil 19,800 keturunan sapi perah pada tahun 1931. Denmark merupakan negara pertama yang membuat asosiasi IB pertama pada tahun 1936. E.J. Perry dari New Jersey mengunjungi fasilitas IB di Denmark kemudian pada tahun 1938 mendirikan organisasi IB pertama di Amerika Serikat di Perguruan Tinggi Pertanian Negeri New Jersey. Industri IB di amerika serikat telah tumbuh dengan cepat. Pada tahun 1970 USDA melaporkan telah melakukan IB pada 7,344,420 sapi perah yang merupakan 46% dari populasi sapi perah.
KEUNTUNGAN DAN KERUGIAN IB
Keuntungan terbesar penggunaan IB adalah dapat termanfaatkannya secara maksimal genetik pejantan unggul. Dengan kawin alam satu sapi hanya dapat mengawini kurang dari 100 ekor betina per tahun. Pada tahun 1968, Satu pejantan unggul dapat menyediakan lebih dari 60.000 semen untuk IB. Penggunaan IB dapat mengurangi penyebaran penyakit genital. Keuntungan lain adalah dapat diketahuinya lebih awal jika ada pejantan infertil, pengurangan penggunaan pejantan tua, terjadinya pejantan pincang dan berkurangnya penggunaan pejantan yang sulit dikendalikan.
Ada beberapa kerugian dari penggunaan IB yaitu diperlukannya ketepatan deteksi birahi oleh manusia. Sukses Atau gagalnya IB tergantung pada seberapa baik petugas dapat melakukan IB. Dalam IB diperlukan tenaga kerja, fasilitas, dan keterampilan khusus.
KOLEKSI, DISTRIBUSI DAN PENYIMPANAN SEMEN
Satu faktor nyata yang menentukan tingkat kesuksesan IB adalah mutu semen yang digunakan. Telah banyak dipelajari mengenai faktor yang mempengaruhi semen, mutu dan metoda evaluasi serta cara mempertahankan kualitas semen dalam penyimpanan yang lebih lama.
Koleksi Semen
Beberapa metoda koleksi semen telah dikembangkan. Metoda koleksi dengan menggunakan vagina buatan paling banyak digunakan. Pejantan menaiki betina buatan untuk selanjutnya diambil semennya. Vagina buatan terbuat dari tabung silindris dengan suatu lapisan karet. Pada ujung tabung terdapat tunnel karet yang dapat diisi dengan air hangat. Kebersihan harus selalu dilakukan untuk menghindari kontaminasi dan penurunan kualitas semen. Perawatan yang tepat pada pejantan akan meningkatkan kuantitas dan kualitas semen yang diperoleh. Koleksi semen hanya dapat dilakukan melalui keterampilan, pelatihan dan pengalaman dengan menggunakan peralatan yang sesuai. Peralatan yang cukup untuk mengendalikan pejantan diperlukan untuk mencegah terjadinya injury.
DISTRIBUSI SEMEN
Alasan yang utama untuk distribusi semen adalah untuk meningkatkan jumlah betina yang dapat diIB dalam satu kali ejakulasi. Secara normal dalam satu kali ejakulasi pejantan sapi perah menghasilkan 5 – 10 milyar sperma yang dapat digunakan untuk mengIB 300 – 1000 sapi. Ada beberapa cara dalam meningkatkan kualitas semen. Dengan penambahan kuning telur dan susu telah banyak digunakan secara luas. Penambahan bukan hanya menambah volume, yang terpenting adalah sesuai dengan kehidupan sperma sehingga dapat hidup lebih lama. Tingkat hidup sperma tergantung pada kualitas sperma, prosentase hidup dan motilitasnya. Sedikitnya 12 juta sperma hidup dan motil yang dapat menghailkan tingkat konsepsi yang baik. Penisilin dan Streptomisin ditambahkan ke dalam semen untuk mencegah pertumbuhan dan penyebaran bakteri patogen seperti vibriosis.
PENYIMPANAN SEMEN
Adanya Penemuan pada semen yang menyatakan bahwa semen dapat disimpan dengan baik dalam keadaan beku pada periode tertentu merupakan revolusi insemiasi buatan pada sapi. Pada tahun 1949, ilmuwan inggris menemukan bahwa penambahan glycerol pada semen dapat memperbaiki ketahanan semen pada saat pembekuan. Glycerol bertindak untuk memindahkan air dari sel sperma sebelum pembekuan dan mencegah rusaknya sel sperma karena adanya pembentukan kristal beku sel sperma. Ada dua metoda penyimpanan dan pembekuan semen yaitu pada suhu – 100 derajat ºF (pada es dan alkohol) dan – 320 ºF dengan nitrogen cair. Nitrogen cair lebih disukai karena tidak menyebabkan adanya kerusakan sperma selama penyimpanan. Fertilitas terus menurun pada penyimpanan di es dan alkohol.
Semen yang dibekukan dapat disimpan dalam waktu yang lama jika sesuai dengan temperatur dan stabil. Laporan terbaru menyatakan bahwa anak sapi lahir dari semen yang telah dibekukan dalam penyimpanan selama 16 tahun. Semen segar dapat disimpan dengan baik selama 1-4 hari pada suhu 40 ºF. Semen pada umumnya disimpan pada gelas ampul. Metode lain yaitu pada straw French. Beberapa organisasi IB sudah menggunakan metode ini secara baik. Pewarnaan buatan sering ditambahkan ke dalam semen untuk membedakan satu jenis keturunan dengan lainnya. Identifikasi secara lengkap diperlukan pada setiap kontainer semen.
TEKNIK IB
Teknik IB pada sapi adalah ketrampilan yang menuntut adanya pengetahuan, pengalaman dan kesabaran yang cukup. Semen harus dideposisikan pada servic pada tempat yang tepat dan pada waktu yang tepat untuk menghasilkan tingkat konsepsi yang diharapkan. Pada awalnya deposisi semen dilakukan di vagina seperti perkawinan alami. Metode ini kurang memuaskan dengan fertilitas yang sangat rendah dan menghabiskan banyak sel sprema. Metode lain yang lebih baik adalah dengan menggunakan spekulum. Metode ini mudah tetapi kurang praktis dibandingkan metoda yang ada saat ini.
Pada teknik rectovaginal, disposible cateter yang berisi semen yang telah di thawing dimasukkan ke dalam vagina sampai servic dengan bantuan tangan yang lain (bersarung tangan) masuk melalui rectum selanjutnya disemprotkan secara pelan-pelan pada cervic menuju uterus untuk menghindari tumpahnya semen. Saluran Uterus itu pendek oleh karena itu dilakukan hati-hati untuk menghindari terjadinya injury. Di dalam servic, cateter harus dipaksakan untuk dapat masuk sedalam mungkin untuk memungkinkan terjadinya kebuntingan. Semenjak adanya penelitian yang menunjukkan bahwa variasi konsepsi terjadi pada deposisi semen pada servic, pada uterus dan pada ujung uterus, beberapa orang menyatakan terjadinya variasi karena tidak tepatnya penetrasi.
Teknik rectovaginal lebih sulit untuk dilakukan tetapi metode ini lebih menguntungkan daripada metode lainnya.
Waktu Inseminasi untuk menghasilkan Konsepsi maksimal
Pertanyaan yang sering diajukan mengenai IB adalah kapan waktu IB yang tepat selama estrus berlangsung untuk menghasilkan konsepsi yang terbaik. Sejak estrus 10 – 25 jam memungkinkan untuk dilakukannya inseminasi. Banyak penelitian yang dilakukan pada masalah ini.
Penelitian yang dilakukan oleh Trimberger dan Davis di Nebraska pada tahun 1943 dan studi lainnya menunjukkan bahwa tingkat konsepsi lebih rendah pada pada inseminasi saat metestrus atau kurang 6 jam setelah terlihat adanya estrus. Konsepsi maksimal diperoleh ketika sapi diinseminasi diantara midestrus dan akhir estrus dengan hasil trebaik 6 jam setelah estrus.
Waktu yang tepat inseminasi disampaikan pada tabel 1.
Keberhasilan pemilihan waktu yang tepat saat inseminasi tergantung pada pengamatan waktu birahi. Tanggung jawab ini terletak pada ketelitian tenaga kerja/peternak dalam mengamati birahi. Pendeteksian estrus dan tepatnya waktu inseminasi akan meningkatkan efisiensi produksi.
Tabel 1.
Sapi Menunjukkan Estrus Harus Di Inseminasi Terlambat Untuk Hasil yang baik
Pagi Pada Hari yang Sama Hari Berikutnya
Sore Besok Pagi atau Menjelang Sore Hari berikutnya setelah Jam 3 Sore


Tips Sehat Alami


0 komentar:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Total Tayangan Laman

Copyrights  © edna disnak 2012 and introducing Panasonic S30

Back to TOP