Rabu, 26 Januari 2011

Menyusun Ransum Sapi


PENDAHULUAN

Usaha sapi potong mempunyai banyak keuntungan antara lain membutuhkan modal yang relatif lebih kecil dan harga daging masih relatif tinggi, sehingga tingkat keuntungannya juga lebih tinggi. Selain itu tatalaksana pemeliharaannya juga relatif lebih mudah dibandingkan dengan sapi perah.
Permasalahan yang terjadi di tingkat peternak adalah produktivitas ternak potong rata-rata masih rendah. Hal ini disebabkan kualitas ransum, bibit dan tatalaksana pemeliharaan yang belum optimal. Salah satu upaya pemecahan masalah rendahnya pertambahan bobot badan harian adalah dengan meningkatkan kualitas ransum pada saat penggemukan. Peningkatan kualitas ransum terutama kandungan Protein Kasar (PK) dan Total Digestible Nutrients (TDN) diperlukan pada saat penggemukan. Hal ini berkaitan dengan meningkatnya proses metabolisme tubuh untuk memenuhi kebutuhan hidup pokok dan pertambahan bobot badannya. Ransum yang biasanya diberikan pada ternak potong di tingkat peternak pada umumnya memiliki kandungan protein kasar antara 9 – 12% (Siregar, 1994). Dengan kisaran tersebut akan menimbulkan permasalahan yaitu kebutuhan dasar protein untuk ternak serta perkembangan mikroba rumen kurang, karena mikroba rumen akan dapat berkembang dengan baik pada saat kadar protein kasar ransum yang diberikan pada ternak sebesar 13,4% (Tamminga, 1979).
Ransum yang seimbang sesuai dengan kebutuhan ternak merupakan syarat mutlak dihasilkannya produktivitas yang optimal tentunya dengan memperhatikan harga pakan yang ekonomis.

MENGHITUNG KEBUTUHAN NUTRISI PAKAN TERNAK

Ternak ruminansia maupun makhluk hidup lainnya membutuhkan sejumlah zat – zat gizi guna memenuhi kebutuhan hidupnya. Kebutuhan hidup ternak ruminansia, khususnya, terdiri dari kebutuhan hidup pokok dan kebutuhan untuk produksi. Kebutuhan hidup pokok adalah kebutuhan zat – zat gizi untuk memenuhi proses – proses hidup saja tanpa adanya suatu kegiatan dan produksi (pertumbuhan, kerja dan produksi susu). Sedangkan kebutuhan produksi adalah kebutuhan zat – zat gizi untuk pertumbuhan, kebuntingan, produksi susu dan kerja,
Dalam menghitung kebutuhan nutrisi ternak ditentukan oleh performance / penampilan ternak, dimana hal ini dapat berupa berat badan, pertambahan berat badan harian, masa kebuntingan dan menyusui. Bila seekor ternak diberi makanan untuk kepentingan pertumbuhan, penggemukan, produksi air susu atau untuk kepentingan fungsi produksi lainnya, maka sebagian makanan itu dipergunakan untuk menunjang proses dalam tubuh yang harus dilaksanakan walaupun ada atau tidak ada pembentukan jaringan baru atau produksi. Kebutuhan-kebutuhan akan makanan untuk menjaga integritas jaringan tubuh dan mencukupi energi guna proses essensial organisme hidup disebut kebutuhan hidup pokok organisme tersebut.
Sehingga bisa dikatakan bahwa apabila kebutuhan hidup pokoknya sudah terpenuhi, maka sisa nutrisi dalam makanan tersebut akan digunakan untuk proses produksi. Jika ternak tidak mendapatkan suplai makanan yang cukup untuk kebutuhan pokok hidupnya, maka dia tidak akan bisa memenuhi target untuk berproduksi. Bahkan ternak tersebut akan merombak cadangan makanan di dalam tubuhnya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, sehingga ternak menjadi kurus.
Kebutuhan hidup pokok tergantung pada bobot badan. Semakin tinggi bobot badan ternak ruminansia, maka akan semakin banyak pula jumlah zat – zat gizi yang dibutuhkan. Kebutuhan zat gizi untuk produksi tergantung pada tingkat dan jenis produksi.
a. Kebutuhan zat – zat gizi untuk pertumbuhan ternak tergantung pada besar dan kecepatan pertumbuhannya. Ternak ruminansia yang tumbuh dengan cepat membutuhkan zat gizi yang lebih banyak pula.
b. Kebutuhan untuk kebuntingan tergantung pada umur atau lama kebuntingan. Umur kebuntingan yang semakin tua membutuhkan zat – zat gizi yang semakin banyak pula.
c. Kebutuhan untuk produksi susu tergantung pada jumlah susu yang diproduksi dan kadar lemaknya. Makin tinggi jumlah dan kadar lemak susu yang diproduksi, maka semakin tinggi pula jumlah zat – zat gizi yang dibutuhkan.

Zat – zat gizi yang diperlukan oleh ternak ruminansia untuk kebutuhan hidup pokok maupun produksi adalah energi, protein, mineral, vitamin dan air. Zat – zat gizi tersebut terdapat dalam berbagai jenis pakan yang dapat diformulasikan menjadi ransum.

• ENERGI
Dalam pengertian sederhana energi adalah kemampuan untuk melakukan kerja. Energi merupakan zat gizi yang banyak dibutuhkan ternak ruminansia setelah air. Banyaknya energi yang terkandung di dalam pakan atau energi yang dibutuhkan ternak ruminansia dapat dinyatakan dalam berbagai cara, seperti energi metabolis, martabat pati, atau total digestible nutrient.
Total digestible nutrient yang disingkat TDN adalah jumlah energi dari pakan maupun ransum yang dapat dicerna. Semua pakan mengandung zat – zat makanan yang dapat menjadi sumber energi, yakni protein, serat kasar, lemak dan bahan ekstrak tanpa N (beta-N). Dari ketiga sumber energi (karbohidrat, lemak, protein), sebagian besar energi yang dibutuhkan ternak ruminansia diperoleh dari karbohidrat. Hal ini dapat dipahami, sebab penggunaan lemak dalam jumlah banyak dapat menimbulkan efek negatif pada ternak. Sedangkan protein merupakan sumber energi yang mahal dibandingkan karbohidrat dan lemak.

• PROTEIN
Sebenarnya yang dibutuhkan oleh ternak ruminansia dari protein adalah asam - asam amino. Di dalam tubuh ternak ruminansia, protein ini ada yang bisa disintesa, namun ada pula yang tidak bisa disintesa. Protein yang tidak bisa atau hanya sebagian kecil saja yang bisa disintesa di dalam tubuh ternak ruminansia disebut asam amino esensial. Sedangkan protein yang bisa disintesa di dala tubuh ternak ruminansia disebut asam amino non-esensial.
Asam amino yang dibutuhkan ternak ruminansia sebagian dipenuhi dari protein mikroba dan sebagian lagi dari protein pakan / ransum yang lolos dari fermentasi di dalam rumen (protein-by pass). Protein yang dibutuhkan ternak ruminansia yaitu dalam bentuk protein kasar dan protein dapat dicerna. Protein kasar adalah jumlah nitrogen (N) yang terdapat di dalam pakan / ransum dikalikan dengan 6,25 (N x 6,25). Sedangkan protein dapat dicerna adalah protein pakan / ransum yang dicerna dan diserap dalam saluran – saluran pencernaan. Sumber protein bagi ternak ruminansia adalah protein natural (protein pakan / ransum) dan non protein nitrogen (NPN).
Salah satu senyawa NPN yang telah umum dikenal adalah urea. Urea ini merupakan suatu senyawa kimia yang mengandung nitrogen 40 – 45%. Urea dapat digunakan sebagai salah satu sumber nitrogen bagi ternak ruminansia karena adanya mikroorganisme di dalam rumennya. Namun, perlu ditegaskan bahwa penggunaan urea dalam ransum ternak ruminansia tersebut adalah sebagai substitusi sebagian proten ransum atau sebagai suplemen terhadap ransum yang berkualitas rendah. Penggunaan urea dalam ransum ternak ruminansia mempunyai batas – batas tertentu agar tidak terjadi keracunan. Sebaiknya, pemberian urea juga tidak dicampur dengan jerami kacang kedelai, sebab jerami kacang kedelai mengandung enzim yang dapat menyebabkan urea bersifat racun pada ternak ruminansia.

• MINERAL
Banyak proses – proses di dalam tubuh ternak hanya dapat berjalan dengan sempurna berkat adanya mineral. Diantara mineral – mineral yang terpenting adalah Na, Cl, K, Fe, Cu, Mg, Ca dan P. Pada umumnya Na dan Cl diberikan dalam bentuk garam dapur. Di samping unsur Na dan Cl, di dalam ransum sapi perah dan kambing perah yang sedang berproduksi susu perlu diperhatikan pula kecukupan unsur Ca, P dan Mg. Unsur – unsur lainnya dianggap telah mencukupi dalam ransum yang diberikan dan tidak perlu ditambahkan, kecuali bila terjadi gejala defisiensi.
Pemberian Na dan Cl dalam bentuk garam dapur untuk kambing, domba, maupun sapi dalam masa pertumbuhan cukup sekitar 1% dari jumlah konsentrat yang diberikan. Mineral lainnya yang perlu diperhatikan di dalam ransum kambing dan domba adalah Ca, P dan Mg.

• VITAMIN
Walaupun jumlah yang dibutuhkan relatif kecil, namun vitamin sering merupakan faktor yang ikut menentukan dalam produksi ternak. Jenis vitamin yang sudah dikenal antara lain vitamin A, vitamin B-kompleks, vitamin C, vitamin D, vitamin E dan vitamin K. Vitamin B, K dan C tidak perlu diperhatikan maupun ditambahkan di dalam ransum ternak ruminansia. Sebab, vitamin B dan K dapat dibentuk di dalam rumen, sedangkan vitamin C dalam jaringan tubuh ternak ruminansia.
Dalam keadaan normal, vitamin – vitamin yang dibutuhkan ternak ruminansia pada umumnya sudah terpenuhi dari ransum yang diberikan, kecuali vitamin A dan E yang sering kekurangan. Tingkat kecukupan vitamin D untuk ternak ruminansia di daerah tropis tidak menjadi masalah dan tidak perlu ditambahkan dalam ransum yang diberikan.

• AIR
Selain merupakan bagian dari organ – organ tubuh ternak, air di dalam tubuh ternak berfungsi dalam transportasi zat – zat makanan melalui dinding – dinding usus masuk ke dalam peredaran darah, mengangkut zat – zat sisa, sebagai pelarut beberapa zat, dan mengontrol suhu tubuh. Begitu besar peranan air di dalam tubuh ternak sehingga apabila ternak kekurangan air sebanyak 10% dari jumlah kandungan air yang terdapat dalam tubuh ternak dapat menimbulkan gangguan kesehatan. Apabila kekurangan air itu mencapai 20% maka dapat menimbulkan kematian. Kebutuhan air pada ternak ruminansia khususnya, tergantung pada berbagai faktor. Beberapa diantaranya sebagai berikut :
 Keadaan ransum yang diberikan
 Suhu udara
 Produksi susu
 Besar tubuh

V. DATA
Tabel 1. Hubungan antara ukuran Lingkar Dada dengan Berat Badan Pada Sapi

Cm Kg Cm Kg Cm Kg Cm Kg Cm Kg
68 30 94 77 120 154 146 265 172 426
69 31 95 79 121 157 147 270 173 433
70 32 96 82 122 161 148 275 174 441
71 34 97 84 123 164 149 280 175 448
72 35 98 87 124 168 150 285 176 456
73 36 99 90 125 172 151 290 177 463
74 37 100 93 126 176 152 295 178 471
75 38 101 96 127 180 153 300 179 487
76 40 102 98 128 184 154 305 180 489
77 42 103 101 129 188 155 310 181 492
78 43 104 103 130 192 156 316 182 500
79 45 105 106 131 196 157 321 183 508
80 47 106 109 132 201 158 327 184 516
81 48 107 112 133 203 159 332 185 524
82 50 108 115 134 210 160 338 186 532
83 52 109 118 135 214 161 344 187 540
84 54 110 121 136 219 162 351 188 548
85 56 111 124 137 223 163 358 189 556
86 58 112 127 138 228 164 366 190 564
87 60 113 130 139 232 165 373 191 575
88 62 114 133 140 236 166 381 192 585
89 65 115 136 141 241 167 388 193 595
90 67 116 140 142 246 168 396 194 604
91 69 117 143 143 250 169 403 195 650
92 72 118 147 144 255 170 410 196 694
93 74 119 150 145 260 171 418 197 740

Tabel 3. Kebutuhan nutrisi sapi potong

BB PBB BK pakan kasar (Hijauan) PK TDN Ca P PK TDN Ca P
kg kg kg % BK % BK % BK % BK % BK gr gr gr gr

(pertumbuhan pedet dan penggemukan sapi muda betina)
100 0 2,1 100 8,7 50 0,18 0,18 182,7 1.040 3,8 3,8
0,5 3,0 70 - 80 12,4 55 0,47 0,37 372,0 1.647 14,1 11,1
0,7 2,9 50 - 60 14,4 62 0,66 0,48 417,6 1.801 19,1 13,9
1,1 3,0 15 17,8 77 0,97 0,63 534,0 2.322 29,1 18,9

150 0 2,8 100 8,7 50 0,18 0,18 243,6 1.386 5,0 5,0
0,5 4,1 70 - 80 11 55 0,34 0,29 451,0 2.251 13,9 11,9
0,7 4,0 50 - 60 12,4 62 0,45 0,35 496,0 2.484 18,0 14,0
1,1 4,0 15 15 77 0,7 0,5 600,0 3.096 28,0 20,0

200 0 3,5 100 8,5 50 0,18 0,18 297,5 1.733 6,3 6,3
0,3 5,4 100 9,1 50 0,18 0,18 491,4 2.673 9,7 9,7
0,7 6,0 70 - 80 10,2 58 0,3 0,27 612,0 3.456 18,0 16,2
1,1 5,0 15 12,8 77 0,5 0,38 640,0 3.870 25,0 19,0



250 0 4,1 100 8,5 50 0,18 0,18 348,5 2.030 7,4 7,4
0,3 6,4 100 8,9 50 0,18 0,18 569,6 3.168 11,5 11,5
0,7 5,8 55 - 65 10,5 65 0,29 0,26 609,0 3.758 16,8 15,1
1,1 6,5 20 - 25 11,4 72 0,38 0,31 741,0 4.680 24,7 20,2

300 0 4,7 100 8,6 50 0,18 0,18 404,2 2.327 8,5 8,5
0,3 7,4 100 8,5 50 0,18 0,18 629,0 3.663 13,3 13,3
0,7 6,6 55 - 65 10,1 65 0,24 0,23 666,6 4.277 15,8 15,2
1,1 7,5 20 - 25 10,4 72 0,31 0,27 780,0 5.400 23,3 20,3

350 0 5,3 100 8,5 50 0,18 0,18 450,5 2.624 9,5 9,5
0,3 8,2 100 8,5 50 0,18 0,18 697,0 4.059 14,8 14,8
0,7 7,9 55 - 65 9,2 62 0,19 0,19 726,8 4.906 15,0 15,0
1,1 8,3 20 - 25 9,9 72 0,24 0,23 821,7 5.976 19,9 19,1

400 0 5,9 100 8,5 50 0,18 0,18 501,5 2.921 10,6 10,6
0,3 9,1 100 8,5 50 0,18 0,18 773,5 4.505 16,4 16,4
0,5 8,5 70 - 80 8,8 58 0,18 0,18 748,0 4.896 15,3 15,3
0,9 8,4 20 - 25 9,4 69 0,2 0,2 789,6 5.821 16,8 16,8

450 0 6,4 100 8,5 50 0,18 0,18 544,0 3.168 11,5 11,5
0,2 8,7 100 8,5 50 0,18 0,1 739,5 4.307 15,7 8,7
0,8 9,1 35 - 45 9 68 0,18 0,18 819,0 6.143 16,4 16,4

(betina muda bunting, sepertiga akhir kebuntingan)

325 0,4 6,6 100 8,8 47 0,23 0,23 580,8 3.089 15,2 15,2
0,8 9,4 85 - 100 9,0 52 0,23 0,21 846,0 4.907 21,6 19,7

350 0,4 6,9 100 8,8 47 0,22 0,22 607,2 3.229 15,2 15,2
0,8 10,0 85 - 100 8,8 52 0,22 0,21 880,0 5.220 22,0 21,0

375 0,4 7,2 100 8,7 47 0,21 0,21 626,4 3.370 15,1 15,1
0,8 11,0 85 - 100 8,7 50 0,20 0,20 957,0 5.445 22,0 22,0

400 0,4 7,5 100 8,7 47 0,21 0,21 652,5 3.510 15,8 15,8
0,8 11,6 85 - 100 8,7 50 0,19 0,19 1009,2 5.742 22,0 22,0

425 0,4 7,8 100 8,8 47 0,20 0,20 686,4 3.650 15,6 15,6
0,8 12,1 85 - 100 8,7 50 0,18 0,18 1052,7 5.990 21,8 21,8

(betina dewasa bunting kering, pertengahan sepertiga kebuntingan)
400 - 6,1 100 5,9 47 0,18 0,18 359,9 2.855 11,0 11,0
500 - 7,2 100 5,9 47 0,18 0,18 424,8 3.370 13,0 13,0
600 - 8,3 100 5,9 47 0,18 0,18 489,7 3.884 14,9 14,9




(betina dewasa bunting kering, sepertiga akhir kebuntingan)
400 0,4 7,5 100 5,9 47 0,18 0,18 442,5 3.510 13,5 13,5
500 0,4 8,6 100 5,9 47 0,18 0,18 507,4 4.025 15,5 15,5
600 0,4 9,7 100 5,9 47 0,18 0,18 572,3 4.540 17,5 17,5

(induk menyusui, kemampuan menyusui sedang, 3 - 4 bulan setelah melahirkan)
400 - 8,8 100 9,2 47 0,28 0,28 809,6 4.118 24,6 24,6
500 - 9,8 100 9,2 47 0,28 0,28 901,6 4.586 27,4 27,4
600 - 11,0 100 9,2 47 0,25 0,25 1.012,0 5.148 27,5 27,5

(induk menyusui, kemampuan menyusui baik, 3 - 4 bulan setelah melahirkan)
400 - 10,8 100 10,9 50 0,42 0,38 1.177,2 5.346 45,4 41,0
500 - 11,8 100 10,9 50 0,39 0,36 1.286,2 5.841 46,0 42,5
600 - 12,9 100 10,9 47 0,36 0,34 1.406,1 6.037 46,4 43,9

(pejantan, bertumbuh dan hidup pokok, aktivitas sedang)
300 1,0 8,8 70 - 75 10,2 58 0,31 0,26 897,6 5.069 27,3 22,9
400 0,9 11,0 70 - 75 9,4 58 0,21 0,21 1.034,0 6.336 23,1 23,1
600 0,5 12,0 80 - 85 8,8 55 0,18 0,18 1.056,0 6.588 21,6 21,6
800 0,0 10,5 100 8,5 50 0,18 0,18 892,5 5.198 18,9 18,9
1.000 0,0 12,4 100 8,5 50 0,18 0,18 1.054,0 6.138 22,3 22,3



MENYUSUN RANSUM SAPI POTONG

A. Identifikasi Bahan Pakan Ternak Ruminansia

Pakan ternak ruminansia terdiri dari hijauan dan konsentrat. Hijauan yang digunakan sebagai pakan, dapat berupa hijauan segar maupun hijauan kering. Disamping itu, harus memenuhi persyaratan sebagai pakan antara lain tidak mengandung racun dan bermanfaat bagi ternak untuk kelangsungan hidupnya. Hal itu berlaku juga dengan konsentrat sebagai pakan ternak.
Menurut Lubis (1992), hijauan adalah bahan pakan dalam bentuk daun-daunan yang kadang-kadang masih bercampur dengan batang, ranting serta bunga yang pada umumnya berasal dari tanaman sebangsa rumput dan kacang-kacangan. Hijauan dapat pula diartikan sebagai pakan yang mengandung serat kasar yang relatif tinggi.
Hijauan yang dapat digunakan sebagai pakan ternak ruminansia adalah rumput gajah (Pennisetum purpureum), kaliandra, lamtoro, gamal, turi, daun nangka, dan lain-lain. Rumput gajah baik digunakan untuk pakan karena penanaman mudah, produksi dan nilai nutrisinya tinggi (Lubis, 1992). Produksi rumput gajah ± 150 ton/ha/tahun dengan pemotongan pertama pada umur 50 – 60 hari dan pemotongan selanjutnya dilakukan setiap 30 – 50 hari sekali (Reksohadiprodjo, 1981). Komposisi zat nutrisi yang terkandung dalam rumput gajah berdasarkan bahan keringnya adalah abu 10,6%, protein kasar 9,6%, serat kasar 32,7%, lemak kasar 1,9%, bahan ekstrak tanpa nitrogen (BETN) 45,2% dan total digestible nutrients (TDN) 54% (Siregar, 1994) .
Tanaman kaliandra dibedakan menjadi dua jenis yaitu kaliandra berbunga merah dan kaliandra berbunga putih. Kaliandra merah merupakan penghasil pakan ternak dengan kandungan protein di dalam daunnya cukup tinggi dan jumlah daun cukup banyak (Lembaga Biologi Nasional, 1983). Komposisi zat nutrisi yang terkandung dalam daun kaliandra merah berdasarkan bahan keringnya adalah abu 9,3%, protein kasar 27,7%, serat kasar 28,9%, lemak kasar 3,3%, bahan ekstrak tanpa nitrogen (BETN) 30,8% dan total digestible nutrients (TDN) 62% (Siregar, 1994).
Daerah tropis yang suhunya relatif lebih panas mempunyai kualitas hijauan yang cenderung lebih rendah, sehingga untuk pemenuhan zat-zat gizi yang tidak tersedia di dalam pakan hijauan dipenuhi melalui pakan konsentrat. Konsentrat adalah pakan yang mengandung serat kasar/bahan yang tak tercerna relatif rendah. Jenis bahan pakan penyusun konsentrat antara lain dedak padi, bungkil kelapa, ampas tahu, ampas kecap, bungkil kedelai, polard, onggok, dan lain-lain (Sutardi, 1981). Menurut Schmidt (1971) yang disitasi oleh Prihadi (1996), pakan konsentrat berfungsi sebagai penambah energi, disamping mengandung protein lebih dari 20% dan kandungan serat kasar kurang dari 18% serta mudah dicerna.
Hijauan merupakan sumber pakan utama untuk ternak ruminansia, sehingga untuk meningkatkan produksi ternak ruminansia harus diikuti oleh peningkatan penyediaan hijauan pakan yang cukup baik dalam jumlah maupun kualitas. Hijauan pakan ternak yang umum diberikan untuk ternak ruminansia adalah rumput-rumputan yang berasal dari padang penggembalaan atau kebun rumput, tegalan, pematang serta pinggiran jalan. Beberapa faktor yang menghambat penyediaan hijauan pakan, yakni terjadinya perubahan fungsi lahan yang sebelumnya sebagai sumber hijauan pakan menjadi lahan pemukiman, lahan untuk tanaman pangan dan tanaman industri (DJAJANEGARA, 1999). Dilain pihak, menurut KASRYNO dan SYAFA'AT (2000) bahwa sumberdaya alam untuk peternakan berupa padang penggembalaan di Indonesia mengalami penurunan sekitar 30%. Disamping itu secara umum di Indonesia ketersediaan hijauan pakan juga dipengaruhi oleh iklim, sehingga pada musim kemarau terjadi kekurangan hijauan pakan ternak dan sebaliknya di musim hujan jumlahnya melimpah. Untuk mengatasi kekurangan rumput ataupun hijauan pakan lainnya salah satunya adalah pemanfaatan limbah pertanian sebagai pakan. Dengan demikian untuk pengembangan ternak ruminansia di suatu daerah seharusnya dilakukan juga usaha untuk memanfaatkan limbah pertanian, mengingat sumber penyediaan rumput dan hijauan lainnya sebagai pakan sangat terbatas. Sumber limbah pertanian diperoleh dari komoditi tanaman pangan, dan ketersediaanya dipengaruhi oleh pola tanam dan luas areal panen dari tanaman pangan di suatu wilayah. Jenis limbah pertanian yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber pakan adalah jerami padi, jerami jagung, jerami kedelai, jerami kacang tanah, pucuk ubi kayu, serta jerami ubi jalar. Untuk mendukung pengembangan ternak ruminansia maka potensi limbah pertanian sebagai
sumber pakan perlu diketahui. Dalam makalah ini dianalisis dan dibahas sumberdaya pakan limbah pertanian yang berkaitan dengan potensi, daya dukung dan kemampuan masing-masing wilayah di Indonesia.

B. Menyusun Formula Ransum Sesuai Kebutuhan Ternak
Langkah-langkah menyusun ransum :
1. Ketahui bobot badan sapi untuk mengetahui kebutuhan gizi pokok hidup.
2. Ketahui kenaikan bobot badan harian untuk mengetahui kebutuhan gizi produksi.
3. Ketahui / hitung kebutuhan nutrien (TDN, PK dan BK dalam pakan sesuai tabel tersaji) yaitu jumlah dari kebutuhan TDN dan PK pokok hidup dan produksi.
4. Ketahui bahan pakan apa saja yang akan digunakan sebagai penyusun ransum.
5. Hitung jumlah bahan pakan yang digunakan sejumlah kandungan nutrien yang dibutuhkan sapi menggunakan patokan kandungan nutrien bahan dalam tabel tersaji (ransum satu hari).
6. Catatan konsumsi bahan kering 2 – 3% dari bobot badan.
7. Catatan perkiraan konsumsi hijauan 10% dari bobot badan.

Contoh Hitungan Ransum
Data : - Sapi bobot badan 400 kg
- Kenaikan bobot badan harian 1,6 kg
- Tersedia bahan pakan ternak terdiri dari hijauan jagung, bahan konsentrat terdiri dari empok, bekatul, polar, bungkil kedelai dan mineral pabrik.
- 1 kg TDN = 36,155 mkal ME
Pertanyaan :
Berapakah jumlah bahan pakan (hijauan jagung, campuran konsentrat) yang dibutuhkan ?

Jawab :
1. Kebutuhan gizi ternak
a. Kebutuhan pokok hidup / hari :
- Kebutuhan energi = 1,245 kg TDN / 45 mk ME
- Kebutuhan protein kasar = 325 gr
b. Kebutuhan produksi untuk kenaikan bobot badan harian 1,6 kg :
- Kebutuhan energi = 3,375 kg TDN 122 mk ME
- Kebutuhan protein kasar = 922 gr
c. Kebutuhan gizi ternak keseluruhan :
- Kebutuhan energi = 167 mkal ME / 4,62 kg TDN
- Kebutuhan protein kasar = 1.247 gr
2. Kebutuhan bahan pakan berdasarkan kandungan gizinya yang diperoleh dari hijauan
a. Hijauan jagung = 10% / BB = 40 kg
b. Kandungan energi hijauan jagung = 4,4 kg = 159 mkal ME
c. Kandungan PK hijauan jagung = 7/100 x 8.000 = 560 gr
d. Kekurangan protein sapi dari hijauan jagung = 1.247 gr – 560 = 687 gr
3. Konsentrat yang dibutuhkan
a. Kekurangan protein = 687 gr
b. Kandungan PK konsentrat 16%
c. Kebutuhan konsentrat = ((100/16) x 687) / 0,85 = 5,05 kg

Langkah Kerja Menyusun Ransum

No. Urutan Uraian
1. Tentukan bobot badan (BB). Lingkar dada (LD) = X cm, maka BB = Y kg
2. Tentukan pertambahan BB (PBB) dan prosentase pemberian pakan kasar. Misalnya :
PBB = Z kg dan pemberian pakan kasar= A% BK.

3. Tentukan kebutuhan nutrisinya. Gunakan tabel kebutuhan nutrisi :
Kebutuhan : BK (kg) TDN (kg) PK (gram)
B C D

4. Hitung pemenuhan kebutuhan BK dari pakan kasar. Kandungan BK dari pakan kasar
= A% x B
= E kg
5. Tentukan jenis hijauan yang akan digunakan dan kandungan nutrisinya. Misalnya hijauan jagung, dimana setiap kg mengandung :
BK = 282 gram; TDN = 168 gram; PK = 22,8 gram
6. Hitung jumlah pemberian hijauan. Hijauan jagung yang diberikan adalah =
E kg/BK hijauan jagung (kg) x 1 kg = F kg
7. Hitung kandungan nutrisi dari hijauan yang diberikan.
Hijauan jagung = F kg mengandung :
TDN = F kg x 168 gram = G gram
PK = F kg x 22,8 gram = H gram
8. Hitung kekurangan kebutuhan nutrisinya.
BK (kg) TDN (kg) PK (gr)
Kebutuhan : B C D
F kg hijauan jagung = F G/1000 H
Kekurangan B – F = I C – (G/1000) = J D – H = K


9. Tentukan mutu konsentrat.
TDN = J/I x 100% = ……%
PK = (K/1000)/I x 100% = ……%

Contoh 1:

No. Urutan Uraian
1. Tentukan bobot badan (BB). Misalnya lingkar dada (LD) = 143 cm, maka BB = 250 kg
2. Tentukan pertambahan BB (PBB) dan prosentase pemberian pakan kasar. Misalnya :
PBB = 0,7 kg dan pemberian pakan kasar= 55% BK.

3. Tentukan kebutuhan nutrisinya. Gunakan tabel kebutuhan nutrisi :
Kebutuhan : BK (kg) TDN (kg) PK (gram)
5,8 3,76 609

4. Hitung pemenuhan kebutuhan BK dari pakan kasar. Kandungan BK dari pakan kasar
= 55% x 5,8 kg
= 3,19 kg
5. Tentukan jenis hijauan yang akan digunakan dan kandungan nutrisinya. Misalnya hijauan jagung, dimana setiap kg mengandung :
BK = 282 gram; TDN = 168 gram; PK = 22 gram
6. Hitung jumlah pemberian hijauan. Hijauan jagung yang diberikan adalah =
3,19 kg/0,282 kg x 1 kg = 11,31 kg
7. Hitung kandungan nutrisi dari hijauan yang diberikan.
Hijauan jagung = 11,31 kg mengandung :
TDN = 11,31 kg x 168 gram = 1.900 gram =1,9 kg
PK = 11,31 kg x 22 gram = 249 gram
8. Hitung kekurangan kebutuhan nutrisinya.
BK (kg) TDN (kg) PK (gram)
Kebutuhan : 5,8 3,76 609
11,31 kg hijauan jagung = 3,19 1.900/1000 = 1,9 249
Kekurangan 2,61 1,86 360


9. Tentukan mutu konsentrat.
TDN = 1,86/2,61 x 100% = 71%
PK = 0,36/2,61 x 100% = 14%


Tabel Nutrisi Pakan Kasar dan Bahan Konsentrat

NAMA BAHAN KANDUNGAN DALAM 1 KG BAHAN PAKAN BERDASARKAN BK
BK(gr) TDN(gr) PK(gr) Ca(gr) P(gr) BK(%) TDN(%) PK(%)
I. PKN KASAR
1 R Gajah Muda 157,00 83,30 17,80 1,10 0,62 15,70 53,06 11,34
2 R Gajah Sedang 175,00 88,30 26,20 0,90 0,89 17,50 50,46 14,97
3 R Gajah Tua 206,00 108,90 17,00 1,00 0,63 20,60 52,86 8,25
4 Hjauan Jagung 282,00 168,00 22,00 0,70 0,78 28,20 59,57 7,80
5 Rumput Lapang 300,00 120,00 23,00 - - 30,00 40,00 7,67
6 Hijauan Tebu 279,20 150,00 15,00 - - 27,92 53,72 5,37
7 Hay Rumput 910,00 486,00 54,00 4,10 1,60 91,00 53,41 5,93
8 Jerami Kedelai 880,00 387,00 45,00 11,30 2,90 88,00 43,98 5,11
9 Silase Hijauan 350,00 234,00 45,00 11,30 2,90 35,00 66,86 12,86
10 Rumput Raja 180,00 95,00 14,00 0,70 0,50 18,00 52,78 7,78
11 Daun Pisang 100,00 60,00 9,00 0,70 0,20 10,00 60,00 9,00
12 Daun Singkong 150,00 93,00 37,50 1,50 0,75 15,00 62,00 25,00
13 Jerami Padi 850,00 357,00 34,00 3,40 2,50 85,00 42,00 4,00
14 Jerami Amoniasi 700,00 350,00 56,00 2,80 2,10 70,00 50,00 8,00
15 Lamtoro 220,00 149,00 46,20 1,10 0,60 22,00 67,73 21,00
16 Gamal 220,00 143,00 44,00 1,10 0,60 22,00 65,00 20,00
17 Kaliandra 200,00 130,00 40,00 1,00 0,60 20,00 65,00 20,00

II. B
1 Pollard 860,00 681,00 160,00 1,50 8,25 86,00 79,19 19,60
2 Dedak Kasar 860,00 430,00 62,00 0,86 6,88 86,00 50,00 7,21
3 Dedak Halus 860,00 584,80 103,20 0,86 12,00 86,00 68,00 12,00
4 Empok Jagung 860,00 705,20 86,00 0,86 2,58 86,00 82,00 10,00
5 Bungkil Kelapa 860,00 670,00 185,00 1,37 6,19 86,00 77,91 21,51
6 Bungkil Kedelai 890,00 754,00 441,00 11,10 4,30 89,00 84,72 49,55
7 Ampas Tahu 100,00 72,00 20,00 - - 10,00 72,00 20,00
8 Bungkil Kapuk 860,00 627,80 258,00 6,80 27,50 86,00 73,00 30,00
9 Tepung Ikan 920,00 680,80 612,70 51,60 28,00 92,00 74,00 66,60
10 Tepung Daging 930,00 706,80 531,00 78,90 40,00 93,00 76,00 57,10
11 Tepung Susu 930,00 1.222,00 252,80 8,36 6,76 93,00 131,40 27,18
12 Tepung Skim 940,00 806,40 338,00 11,75 9,68 94,00 85,79 35,96
13 Susu Segar 120,00 156,00 30,90 1,06 1,86 12,00 130,00 25,75
14 Skim Segar 100,00 93,00 36,00 1,40 1,17 10,00 93,00 36,00
15 Gamblong 160,00 99,20 3,20 1,10 0,16 16,00 62,00 2,00
16 Tetes 830,00 581,00 33,20 7,50 0,83 83,00 70,00 4,00
17 Tepung Tulang 950,00 615,20 120,00 289,80 135,90 95,00 64,76 12,63
18 Dicasium Phospat 960,00 - - 227,50 180,90 96,00 - -
19 Tepung Gamping 1.000,00 - - 360,70 0,20 100,00 - -
20 Natrium Phospat 870,00 - - - 224,40 87,00 - -
MENYUSUN FORMULA KONSENTRAT

A. Bahan Pakan Penyusun Konsentrat
Konsentrat adalah pakan yang mengandung serat kasar, atau bahan yang tak tercerna relatif rendah, sehingga mempunyai daya cerna tinggi karena mempunyai kandungan serat kasar rendah yaitu dibawah 20%, dengan TDN lebih dari 60%. Yang termasuk dalam golongan ini ialah biji – bijian dengan hasil ikutannya dan produk asal hewan (Srigandono, 1987). Jenis pakan konsentrat antara lain dedak padi, bungkil kelapa, ampas tahu, ampas kecap, bungkil kedelai, polard, onggok, dan lain – lain (Sutardi, 1981). Menurut Schmidt (1971), pakan konsentrat berfungsi sebagai penambah energi, disamping mengandung protein tinggi dan kandungan serat kasar kurang dari 18% serta mudah dicerna (Prihadi, 1996). Bahan pakan yang digunakan sebagai penyusun konsentrat memerlukan pertimbangan yang antara lain adalah :
1. Berapa harga satuan bahan tersebut.
2. Apa saja gizi yang terkandung di dalamnya.
3. Berapa kandungan gizi dalam bahan pakan.
4. Bagaimana kontinyuitas ketersediaan bahan pakan setiap waktu/hari yang dibutuhkan.
5. Dari mana didapatkan bahan pakan tersebut.

B. Metode Formulasi Konsentrat
Bila bahan pakan konsentrat sudah dipilih, harga sudah diperhitungkan selanjtnya ditentuka metode memformulasikan. Ada beberapa metode hitungan yang dapat digunakan untuk memudahkan membuat formulasi konsentrat, diantaranya adalah :
1. Metode coba- coba (Trial and error method).
Metode ini sering pula disebut cut and try method. Metode ini dilakukan dengan cara mencoba – coba dan memerlukan pengalaman melalui latihan – latihan. Pada umumnya, metode ini digunakan untuk membuat formulasi konsentrat sesuai dengan kualitas yang diinginkan. Bahan pakan yang akan digunakan dalam metode formulasi ini harus terdiri dari lebih dua jenis.
2. Metode Pearson’s Square.
Metode ini digunakan untuk mendapatkan kandungan satu zat gizi, misalnya protein atau energi saja, dari dua jenis pakan yang akan diformulasikan menjadi ransum.
3. Metode Algebra.
4. Linear Programming.
Metode linear programmingdalam formulasi ransum ternak memerlukan pengetahuan tentang perhitungan simpleks (simplex computation). Untuk memudahkan perhitungan, digunakan teori masalah ganda dimana persamaan dalam bentuk maksimalisasi yang selanjutnya disusun suatu tabel simpleks awal. Pada umumnya merupakan metode penganalisaan yang biasanya digunakan dalam menggunakan komputer.

Contoh Perhitungan Membuat Formula Konsentrat.
Contoh perhitungan penyusunan konsentrat dengan metode coba-coba yang diinginkan mengandung BK diatas 85%, TDN diatas 75% dan PK diatas 17% adalah :

Langkah Pertama :
Pilih bahan pakan yang akan digunakan yang mengandung gizi sumber karbohidrat dan protein sesuai kondisi ketersediaan bahan konsentrat yang tersedia misalnya dedak jagung, bekatul/dedak padi, bungkil kelapa, pollard (dedak gandum) dan bungkil kedelai.
Langkah kedua :
Lihat analisa knadungan gizi sumber energi (TDN) dan protein kasar dari masing-masing bahan yang digunakan di daftar tabel bahan pakan. Apabila bahan yang digunakan tidak tercantum dalam daftar tabel bahan pakan, maka dapat dianalisakan di laboratorium. Dari daftar tabel diperoleh daftar kandungan gizi sebagai berikut :
Bahan Pakan Bahan Kering (%) TDN (% BK) Protein Kasar
(%BK)
Dedak jagung 84,8 82 8,5
Dedak padi halus 89,6 67 8,68
Pollard 88,4 70 17
Bungkil kelapa 87,9 81 21,2
Bungkil kedelai 88,6 83,2 41,3

Langkah ketiga :
Periksa penggunaan batas maksimum dan minimum penggunaan bahan pakan terpilih tersebut untuk mempersingkat proses perhitungan coba-coba sehingga menghemat waktu.
Langkah Keempat :
Membuat tabel metode coba – coba dan menghitung masing – masing kandungan nutrisi sebagai berikut :
Bahan Pakan % / bagian BK (%) TDN
(% BK) PK (%BK)
Dedak jagung 20 15,92 16,40 1,70
Dedak padi halus 30 26,88 20,10 2,60
Pollard 25 22,10 17,50 4,21
Bungkil kelapa 15 13,19 12,15 3,18
Bungkil kedelai 10 8,86 8,32 4,13
Total 100 86,95 74,47 15,82
Kebutuhan Diatas 85 Diatas 75 Diatas 17

Dari tabel tersebut diatas terlihat bahwa TDN dan PK masih kurang dari kandungan yang diinginkan, untuk itu diperlukan perubahan (peningkatan) jumlah atau bagian yang mengandung TDN tinggi dan PK tinggi seperti pada bungkil kedelai dan kurangi bagian yang lain yang mengandung gizi berlawanan dengan bungkil kedelai.

Langkah kelima :
Bahan Pakan % / bagian BK (%) TDN (% BK) PK (%BK)
Dedak jagung 20 15,92 16,40 1,70
Dedak padi halus 25 22,40 16,75 2,17
Pollard 25 22,10 17,50 4,21
Bungkil kelapa 15 13,19 12,15 3,18
Bungkil kedelai 15 13,29 12,48 6,20
Total 100 86,90 75,28 17,46
Kebutuhan Diatas 85 Diatas 75 Diatas 17
Bandingkan kandungan gizi dan harga formula konsentrat yang dibuat dengan kandungan gizi dan harga konsentrat yang ada di pasaran, apabila konsentrat yang anda buat lebih mahal atau gizinya lebih rendah, maka formulasi dapat diubah kembali dengan kembali ke langkah sebelumnya.
D. LANGKAH KERJA MENYUSUN FORMULA KONSENTRAT

Selain itu dapat pula menggunakan cara yang lain dengan memakai selisih (nilai deviasi) dari tiap – tiap bahan pakan. Langkah – langkah yang digunakan cukup mudah untuk diikuti seperti berikut ini :

No. Urutan Uraian
1. Tentukan kandungan PK dan TDN konsentrat yang akan dibuat (Lihat hasil penyusunan ransum) Misalnya kandungan konsentrat dalam 1 kg :
PK = a gram (14% =140 gram)
TDN = b gram (71% = 710 gram)

2. Tentukan bahan konsentrat yang akan digunakan Misalnya :
Bungkil kedelai, Bungkil kelapa, Empok jagung dan Dedak halus.
3. Catat kandungan PK dan TDN dari setiap bahan pakan yang akan digunakan Gunakan tabel kandungan nutrisi :
Bahan pakan Dalam 1 kg mengandung
PK (gram) TDN (gram)
Bk. Kedelai
Bk. Kelapa
Empok jagung
Dedak halus

4. Hitung nilai deviasi PK dari setiap bahan pakan
Bahan pakan PK bahan PK Target Selisih
Bk. Kedelai a C
Bk. Kelapa a D
Empok jagung a E
Dedak halus a F

5. Tentukan angka faktor pengkali dari setiap bahan pakan (misalnya g, h, i dan j) sedemikian rupa sehingga jumlah hasil perkaliannya antara nilai deviasi dengan faktor pengkali = 0 (nol). Bahan pakan Selisih Faktor pengkali
Bk. Kedelai = C x G = K
Bk. Kelapa = D x H = L
Empok jagung = E x I = M
Dedak halus = F x J = N
Jumlah Y 0

Syarat : K + L + M + N = 0 (nol)
6. Tentukan formula konsentrat Bahan pakan
Bk. Kedelai = G/Y x 100% = …..%
Bk. Kelapa = H/Y x 100% = …..%
Empok jagung = I/Y x 100% = …..%
Dedak halus = J/Y x 100% = …..%

7. Lakukan pengecekan terhadap kandungan TDN konsentrat yang telah disusun. Gunakan tabel kandungan nutrisi bahan pakan yang digunakan.
8. Lakukan perhitungan kembali seperti di atas dengan mengubah angka faktor pengkali, bila ternyata nilai TDN tidak seperti yang dikehendaki.

Contoh 1:
No. Urutan Uraian
1. Tentukan kandungan PK dan TDN konsentrat yang akan dibuat (Lihat hasil penyusunan ransum) Misalnya kandungan konsentrat dalam 1 kg :
PK = a gram (14% =140 gram)
TDN = b gram (71% = 710 gram)

2. Tentukan bahan konsentrat yang akan digunakan Misalnya :
Empok jagung dan pollard.
3. Catat kandungan PK dan TDN dari setiap bahan pakan yang akan digunakan Gunakan tabel kandungan nutrisi :
Bahan pakan Dalam 1 kg mengandung
PK (gram) TDN (gram)
Empok jagung 86 705,2
Pollard 160 681

4. Hitung nilai deviasi PK dari setiap bahan pakan
Bahan pakan PK (%) bahan PK (%) Target Selisih
Empok jagung 10 14 -4
Pollard 18,6 14 4,6


5. Tentukan angka faktor pengkali dari setiap bahan pakan (misalnya g, h, i dan j) sedemikian rupa sehingga jumlah hasil perkaliannya antara nilai deviasi dengan faktor pengkali = 0 (nol). Bahan pakan Selisih Faktor pengkali
Empok jagung = -4 x 1 = -4
Pollard = 4,6 x 0,87 = 4
Jumlah 1,87 0

Syarat : K + L = 0 (nol)
6. Tentukan formula konsentrat Bahan pakan
Empok jagung = 1/1,87 x 100% = 53,5%
Pollard = 0,87/1,87 x 100% = 46,5%


7. Lakukan pengecekan terhadap kandungan TDN konsentrat yang telah disusun. Gunakan tabel kandungan nutrisi bahan pakan yang digunakan.
8. Lakukan perhitungan kembali seperti di atas dengan mengubah angka faktor pengkali, bila ternyata nilai TDN tidak seperti yang dikehendaki.


Tips Sehat Alami


3 komentar:

Jangkrik Lampung 8 Maret 2011 07.11  

Kakak, saya mahasiswa unila 08. Bagus nih blog Kakak. Kalw mau download file-nya dimana ya? Kasih link-nya dong Kak...

edna 9 Maret 2011 20.47  

trims, gag tak protex kok tgl dowld aja. smoga bermanfaat

edna 9 Maret 2011 20.49  

http://ednadisnak.blogspot.com

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Total Tayangan Laman

Copyrights  © edna disnak 2012 and introducing Panasonic S30

Back to TOP