Rabu, 26 Januari 2011

Penyakit Yang Seing Muncul Pada Sapi

BAB I
PENDAHULUAN

A.Latar Belakang
Dunia peternakan khususnya sapi potong sangat menarik untuk dipelajari dan dikembangkan walaupun banyak tantangan dilapangan yang tidak mudah untuk dilampaui. Sapi potong sebagai salah satu penyumbang kebutuhan daging nasional sesuai dengan program yang dicanangkan pemerintah untuk mencukupi kebutuhan daging tahun 2010 dan rencana swasenbada daging tahun 2014 mempunyai nilai strategis dalam pengembangannya.
Budidaya sapi potong meliputi pemeliharaan mulai dari pedet sampai dijual, pemberian pakan, perkandangan, kebersihan lingkungan, pengenalan penyakit yang sering menyerang dan penanggulangannya. Program Kesehatan Kelompok Ternak (PKKT) merupakan program yang sangat mendukung usaha peternakan yang dapat dilaksanakan secara bersama-sama dengan penuh kesadaran dari setiap anggota kelompok untuk mencapai tujuan keberhasilan usaha ternak.
Sebagai tolok ukur keberhasilan dalam suatu usaha budidaya sapi potong ialah rendahnya angka kesakitan, rendahnya angka kematian, bertambahnya populasi ternak, tidak adanya penyakit-2 menular yang bersifat zoonosis.
B.Deskripsi Singkat
Mata Diklat ini membahas tentang :
Penyakit yang sering menyerang sapi potong baik pedet maupun sapi dewasa;
Factor penyebab;
Factor predesposisi;
Gejala klinis yang tampak;
Cara mendiagnosa;
Tindakan pengobatan,pencegahan dan pengendalian.
Biosecurity
C.Manfaat
Modul ini diharapkan dapat menambah wawasan, pengetahuan peserta diklat sapi potong bagi penyuluh dan petugas teknis dilapangan sehingga terjadi keberhasilan dalam tugasnya untuk memberikan penyuluhan dan tindakan terhadap penanggulangan penyakit hewan serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
BAB II
PENYAKIT DAN PENANGGULANGANNYA
A. Istilah – Istilah
1. Hewan Sehat : kondisi hewan dimana semua fungsi tubuh berjalan secara normal.
2. Gejala Klinis : tanda-2 suatu penyakit yang dapat ditentukan secara objektif, misalnya muntah, mencret, tidak mau makan dll.
3. Diagnose : suatu tindakan untuk menentukan suatu jenis penyakit berdasarkan gejala klinis, pemeriksaan laboratorium dll.
4. Pengobatan : tindakan untuk memberi obat pada ternak yang sakit dengan takaran tertentu dengan tujuan untuk menyembuhkan penyakit.
5. Pencegahan : tindakan penolakan suatu penyakit yang belum dikenal sebelumnya yang masuk wilayah bebas penyakit atau mencegah terinfeksinya suatu individu (ternak) terhadap suatu penyakit pada wilayah tercemar.
6. Pengendalian : tindakan pencegahan dalam suatu populasi yang besar
7. Pemberantasan : tindakan yang bertujuan untuk membebaskan suatu wilayah dari suatu agen penyakit.
B. Penyakit Dan Penanggulangannya.
1. White Scour / Colibacillosis
Penyebab : E.Coli, kebanyakan menyerang pedet sampai umur 3 minggu.
Gejala Klinis :
E.Coli yang bersifat enteropatogenik yang mengakibatkan diare dan yang bersifat septisemik menyebabkan sepsis dan kematian mendadak.
E.Coli yang bersifat septisemik tidak menyebabkan sakit pada pedet yang cukup mendapat kolostrum, namun yang bersifat enteropatogenik dapat menyebabkan sakit pada pedet karena membentuk koloni dalam usus.
Morbiditas 30%, mortalitas sampai 50%.
 Bentuk Toksemia :
• Hewan lemah
• Suhu tubuh sub normal
• Pulsus normal, tidak ada diare
• Koma
• Mati dalam 2 – 6 jam
 Bentuk Klasik :
• Diare profus, tinja berbentuk pasta atau sangat cair berwarna putih atau kuning dengan bau yang menusuk.
• Kadang ditemukan darah segar dalam tinja.
• Toksemia  napsu minum hilang
• Diare  dehidrasi, shock, kematian.
Diagnose :
• Pemeriksaan lab.
• Air susu yang diberikan.
Pengobatan :
• Antibiotika I.V / I.M 10 mg/kg BB
Pencegahan dan Pengendalian ;
• Sanitasi kandang, alat-2 dan lingkungan, hewan mati dikubur, alat-2 dibakar
• Vaksinasi induk atau pedet
• Kolostrum yang cukup pada pedet
• Untuk pedet yang sakit tidak diperkenankan memberi susu atau susu pengganti sampai pedet sembuh.

2. Salmonellosis
Penyebab :
Salmonella sp, dapat menyerang pedet yang berumur 2 minggu dan sapi dewasa,bersifat zoonosis.
Infeksi karena masuknya sapi baru, kuman bertahan dalam air tergenang sampai 9 bulan, pada sapi bunting menyebabkan keguguran.
Morbiditas 80%, mortalitas sampai 20%.
Gejala Klinis :
 Bentuk Septisemia :
• Hewan lemah
• Suhu tubuh diatas normal (40oC-42oC)
• Koma
• Mati dalam 24 - 48 jam
• Bila pedet atau sapi dewasa dapat melewati fase ini akan terjadi diare profus  dehidrasi
 Bentuk Enteritis Akut :
• Pada sapi dewasa
• Hewan lemah
• Suhu tubuh diatas normal (40oC-41oC)
• Diare cair  dehidrasi  kematian dalam 2-5 hari
• Napsu makan hilang, napsu minum masih ada
• Produksi turun
Diagnose :
Berdasarkan gejala klinis
Pemeriksaan laboratorium
Pengobatan :
• Antibiotika I.V / I.M 10 mg/kg BB
Pencegahan dan Pengendalian ;
• Sanitasi kandang, alat-2 dan lingkungan, hewan mati dikubur, alat-2 dibakar & dimusnahkan
• Vaksinasi induk atau pedet
• Rotasi padang penggembalaan
3. Septichemia Epizooticae (SE)
Penyebab :
Pasteurella multocida, infeksi melalui saluran pencernaan dan pernapasan dengan pembengkakan didaerah tekak sebagai tanda awal.
Sapi yang terserang berumur 6 – 18 bulan,terjadi pada akhir musim panas atau awal musim hujan.
Hewan yang sembuh dapat menjadi carrier,kasus muncul karena stress hewan carrier
Morbiditas 60%, mortalitas sampai 100%.
Gejala Klinis :
• Inkubasi 10 – 14 hari
• Depresi,lesu,malas bergerak
• Suhu tubuh diatas normal sampai 42oC
• Gangguan respirasi,terdengar suara ngorok
• Hipersalivasi
• Pembengkakan didaerah leher sampai dada bagian bawah
• Kematian 24 – 48 jam setelah gejala muncul
Diagnose :
Berdasarkan gejala klinis
Pemeriksaan laboratorium
Pengobatan :
• Antibiotika I.V / I.M 10 mg/kg BB
• Preparat sulfa (sulfadimidine)
Pencegahan dan Pengendalian ;
• Vaksinasi secara teratur setiap menjelang musim hujan
4. Anthrax (radang limpa)
Penyebab :
Bacillus anthracis, yang dapat membentuk spora bila berhubungan dengan udara dan tahan bertahun – tahun dalam tanah, penyakitnya bersifat sub akut dan akut juga zoonosis.
Gejala Klinis :
• Depresi,lesu,menggigil,malas bergerak.
• Suhu tubuh diatas normal sampai 42oC.
• Kematian 24 – 48 jam setelah gejala muncul.
• Hewan mati memperlihatkan leleran darah berwarna kehitaman seperti tir dari mulut,hidung, anus dan vulva.

Diagnose :
• Berdasarkan gejala klinis.
• Pemeriksaan laboratorium.

Pengobatan :
• Serum kebal .
• Antibiotika.

Pencegahan dan Pengendalian ;
• Vaksinasi secara teratur.
• Pengawasan ketat terhadap lalulintas ternak pada saat terjadi wabah atau penutupan wilayah dari lalulintas ternak.

5. Jembrana (Rama Dewa)
Penyebab :
Retrovirus, bersifat mudah terurai (fragil) diluar tubuh induk semang.
Khusus menyerang sapi bali, ditandai dengan demam tinggi, penularan oleh serangga.
Morbiditas 60%, mortalitas 10% tetapi case fatality rate mencapai 30%.

Gejala Klinis :
• Inkubasi 5 – 12 hari
• Depresi, napsu makan hilang.
• Suhu tubuh diatas normal sampai 42oC (demam) selama 5 – 7 hari yang diikuti diare yang kadang bercampur darah.
• Pembengkakan kelenjar limpe superficial : prescapularis, prefemoralis, parotidea.
• leleran encer dari hidung,hipersalivasi.
• lakrimasi dan konjungtivitis.
• blood sweating (keringat berdarah) akibat gigitan serangga penghisap darah pada punggung,pinggang,perut, kaki bagian bawah.

Diagnose :
• Berdasarkan gejala klinis
• Pemeriksaan laboratorium

Pengobatan :
• Antibiotika spectrum luas untuk menekan infeksi sekunder bakteri

Pencegahan dan Pengendalian ;
• Isolasi ternak sakit,penyemprotan terhadap serangga penghisap darah dengan insektisida
• Pengawasan ketat terhadap lalulintas ternak pada saat terjadi wabah atau penutupan wilayah dari lalulintas ternak

6. Bovine Ephemeral Fever (demam 3 hari)
Penyebab :
Rhabdovirus, bersifat menular , akut ditandai dengan kepincangan, ditularkan melalui vector lalat Culicoides spp dan nyamuk Culex spp.
Kejadian penyakit bersamaan dengan meningkatnya jumlah populasi vektor.
Morbiditas 40%, mortalitas rendah.
Gejala Klinis :
• Inkubasi 7 – 10 hari
• Depresi, lesu, napsu makan turun.
• Suhu tubuh diatas normal sampai 41oC (demam) selama 3 hari yang diikuti sembelit dan dilanjutkan diare.
• Pembengkakan persendian kaki disertai kekauan otot anggota gerak  pincang  jatuh / berbaring.
• Hewan akan sembuh dengan sendirinya setelah 5 – 7 hari munculnya gejala.
Diagnose :
• Berdasarkan gejala klinis
• Pemeriksaan laboratorium

Pengobatan :
• Antibiotika spectrum luas untuk menekan infeksi sekunder bakteri
• Ruboransia untuk meningkatkan kondisi tubuh.

Pencegahan dan Pengendalian ;
• Isolasi ternak sakit,penyemprotan terhadap serangga penghisap darah dengan insektisida.

7. Malignant Catarrhal Fever (ingusan)
Penyebab :
Yang berkaitan dengan wildebeest associated MCF ialah herpesvirus, sapi yang sembuh diduga menjadi carrier dengan penularan melalui serangga.
Yang berkaitan dengan domba (sheep associated MCF) belum diketahui, diduga sapi terinfeksi karena kontak dengan domba yang baru melahirkan, terutama menyerang sapi bali.
Penyakit menyerang sapi berumur lebih dari 2 tahun.
Bersifat sporadic, mordibitas rendah, mortalitas hampir 100%

Gejala Klinis :
• Inkubasi 2 -4 minggu atau sampai 10 bulan
Mempunyai 4 bentuk MCF, yaitu :
 Bentuk perakut : peradangan pada mukosa mulut dan hidung.

 Bentuk intestinal :
• Demam dengan suhu 41oC.
• Kongesti mukosa hidung dan mata.
• Leleran mukopurulen dari mata dan hidung.
• Pembengkakan kelenjar limfe superficial.
• Kadang terjadi diare.

 Bentuk ringan : gejala hampir tak teramati.
 Bentuk kepala dan mata :
• Demam dengan suhu 42oC
• Depresi, lesu, napsu makan hilang.
• Keluar leleran encer dari hidung yang berubah menjadi mukopurulen dan berbau busuk.
• Cermin hidung kering dan mukosanya mengalami erosi.
• Konjungtivitis dan keratitis.
• Mukosa mulut berwarna merah.
• Bagian bawah lidah, gusi, langit -2 dan bantalan gigi mengalami erosi atau tukak.
Diagnose :
• Berdasarkan gejala klinis
• Pemeriksaan laboratorium

Pengobatan :
• Tidak dapat diobati, hampir semua kasus MCF berakhir dengan kematian.
• Ruboransia untuk meningkatkan kondisi tubuh.

Pencegahan dan Pengendalian ;
• Isolasi ternak sakit
• Hindari pengandangan atau penggembalaan sapi bersama dengan domba terutama sapi bali.

8. Bovine Viral Diarrhea-Mucosal Disease /BVD-MD (diare ganas menahun)
Penyebab :
Pestivirus, sapi sangat peka terhadap BVD-MD yang berumur diatas 1 tahun yang seropositif BVD-MD mencapai 60%-80%
Penularan melalui : kontak langsung, kontak tak langsung melalui bahan tercemar,lewat plasenta. Ternak dengan virus BVD-MD persisten dapat menjadi sumber penularan utama.
Isolasi virus melalui : leleran hidung, saliva, semen, tinja, urine,air mata, susu.
Mordibitas rendah 5% , pada sapi berumur lebih dari 2 tahun mortalitas hampir 100%
Gejala Klinis :
Inkubasi 1 - 3 minggu
Demam, napsu makan turun, depresi
Diare berlendir, ada bercak darah, berbau busuk
Erosi pada selaput lendir hidung, lidah, bibir, gusi, bagian belakang maxilla.
Hipersalivasi, cermin hidung kering terbentuk kerak
Keluar leleran dari lubang hidung, mula mula encer berubah menjadi mukopurulen


a. Pada Sapi Tidak Bunting
Inkubasi 3 – 5 hari
Sedikit demam, napsu makan turun.
Tukak mulut dan diare sementara

b. Pada Sapi Bunting
Menular dari induk ke mudigah
Bila infeksi pada kebuntingan kurang dari 100 hari  janin tidak dapat membentuk reaksi kebal dan tidak ada pembentukan antibody  pedet lahir membawa virus secara abadi .
Bila infeksi pada kebuntingan 100 - 150 hari  abnormalitas congenital
Kematian mudigah dapat terjadi pada setiap tahapan kebuntingan, pada kebuntingan awal terjadi mumi atau membusuk, virus tidak dapat diisolasi
c. Pada sapi Terinfeksi Abadi
Pedet yang lahir selamat dan tetap terinfeksi akan mati dalam waktu 2 tahun, bila hidup akan melahirkan pedet yang terinfeksi abadi  kelainan congenital otak hipoplasi otak kecil  sempoyongan
Diagnose :
• Abnormalitas kelahiran atau keguguran yang tidak diketahui sebabnya
• Pemeriksaan laboratorium

Pengobatan :
• Antibiotika spectrum luas.
• Vitamin dan elektrolit untuk mengganti cairan tubuh.

Pencegahan dan Pengendalian ;
• Isolasi ternak sakit
• Menjaga kebersihan kandang dan lingkungan

BIOSECURITY

Pengertian:
Strategi dan tindakan secara terintegrasi meliputi kebijakan dan kerangka kerja yang menganalisa dan mengendalikan segala akibat yang merugikan pada sector :
 Keamanan pangan
 Kesehatan dan kehidupan hewan
 Kesehatan dan kehidupan tumbuhan termasuk lingkungan
Biosecurity merupakan konsep yang menyeluruh dan secara langsung mendukung bidang pertanian, keamanan pangan dan perlindungan terhadap lingkungan
Juga meliputi perlindungan terhadap bahaya pada gangguan yang menyebabkan kerusakan tumbuhan, gangguan dan penyakit hewan serta zoonosis

Organisasi Pangan Dunia (FAO) :
Kelompok Kerja :
 Menyediakan layanan advis dan berkoordinasi dengan seluruh organisasi yang bergerak dibidang keamanan pangan
 Memberi informasi tentang bioteknologi dan layanan bahan keamanan pangan dan pertanian termasuk perikanan dan kehutanan

Farm Biosecurity

• Resiko timbulnya penyakit selalu ada
• Program direncanakan untuk meminimalisir kontak antar hewan, hewan dengan manusia atau objek lainnya yang bertindak sebagai carrier penyakit yang disebabkan oleh virus, bakteri, jamur dan parasit
• Harus disertai dengan manajemen yang baik serta komitmen yang kuat

Tindakan umum yang dilakukan dalam program biosecurity ialah :
1. Mengawasi keluar masuknya hewan
2. Mencegah kontak dengan hewan atau hewan liar
3. Secara rutin membersihkan dan mendesinfektan sepatu, pakaian dan peralatan yang dipakai ketika menangani hewan
4. Mencatat pengunjung, hewan, peralatan yang masuk dan keluar

Tindakan :
Membeli hewan,pakan dan bahan lain dari supplier yang benar
Memisahkan hewan yang baru datang
Memberi tanda semua hewan untuk memudahkan pengawasan
Vaksinasi secara teratur untuk penyakit tertentu
Beri tanda hewan yang sakit dan melaporkan setiap hewan yang sakit atau yang dicurigai sakit kepada petugas

Biosecurity Pembibitan Sapi

1. Kesehatan hewan (sapi) sebagai syarat mutlak
2. Sapi bibit & penghasil bibit bebas dari penyakit hewan menular strategis & penyakit infeksi
3. Terhindar dari penyakit organic & metabolic

Pelaksana Biosecurity :
1. Dokter Hewan
2. Fungsional Paramedis & Reproduksi
3. Manajer Kandang
4. Manajer Pakan

Komponen Utama Biosecurity :
1. Isolasi
2. Pengaturan keluar masuknya hewan (traffic control)
3. Sanitasi

1.Isolasi
Tindakan untuk mencegah kontak dengan hewan-2 dalam area pembibitan -> penolakan penyakit :
1. Karantina sapi baru masuk
2. Isolasi sapi sakit pada kandang isolasi -> obati -> meminimalis perpindahan bakteri penyebab penyakit
3. Pemisahan kelompok :
Sapi dara
Dara bunting
Sapi siap partus
Sapi laktasi
Sapi induk kosong
4. Fasilitas perkandangan, desinfeksi & antisepsi secara rutin
5. Evaluasi tindakan isolasi untuk penolakan penyakit infeksi menular pada kelompok baru masuk

2. Pengaturan keluar masuknya hewan (traffic control)
• Perhatikan keluar masuknya hewan dan perpindahan hewan sesuai umur
• Pergerakan ternak & manusia
• Adanya hewan lain : anjing, kucing, unggas dll
• Biologi & ekologi organism penyebab infeksi
• Kebersihan / pembersihan area sebelum sapi -2 masuk
• Perhatikan penyebab kontaminasi pada sapi, pakan, peralatan termasuk kendaraan pengangkut pakan dan hewan

• Desinfeksi kendaraan & peralatan untuk mengangkut hewan sakit atau mati
• Sanitasi & antisepsi petugas medis / paramedis
• Tempat pembuangan & pembakaran sapi mati harus terpisah dari area pembibitan

3. Sanitasi
 Desinfeksi barang, manusia, peralatan yang masuk dan didalam area pembibitan
 Kebersihan manusia dan alat-2 di area pembibitan
 Penyingkiran kotoran organic (feses, darah, saliva, urin) dari hewan sakit atau mati
 Peralatan disimpan dalam keadaan bersih ditempat yang kering dan bersih
 Tidak diperkenankan menyimpan peralatan pada tempat yang berisi desinfektan

Good Management Practices (GMP) Biosecurity
• Memenuhi persyaratan penjaminan mutu GMP
• Pemahaman prinsip lebih menguntungkan mencegah daripada memperbaiki masalah
• Kesepakatan melakukan sesuatu yang benar pada awal pekerjaan merupakan tindakan pencegahan bagian kritis (CCP) biosecurity
• Data harus mudah dilacak dan divalidasi

GMP untuk pencegahan penyakit menular :
Susun rencana biosecrity dan dipastikan implementasinya
Cegah masuknya pathogen ke area pembibitan
GMP untuk sanitasi :
Upaya untuk mencegah kontaminasi manur pada pakan atau peralatan yang dipakai secara oral
Upaya untuk mencegah kontaminasi silang antara ternak sehat dengan ternak sakit atau mati
Evaluasi aktivitas rutin area pembibitan untuk mendapatkan indikasi sapi yang trinfeksi
GMP untuk peralatan :
 Gunakan secara terpisah peralatan pakan & pembersih kandang atau bersihkan bila digunakan lagi
 Jangan meninggalkan alat pembersih kotoran dalam kandang kelompok ternak lain
 Bersihkan kendaraan & peralatan yang tercemar sebelum dipergunakan pada kelompok sapi yang sehat
 Bersihkan & desinfeksi secara rutin peralatan pakan dan peralatan handling sapi
 Bersihkan & desinfeksi secara rutin peralatan medis ternak
GMP untuk pencegahan penyakit :
Disediakan tempat untuk restrain, pengobatan & isolasi ternak yang sakit
Pencegahan kontaminasi silang antara air, manur, pakan atau peralatan antara kelompok ternak
Perencanaan jumlah ternak, distribusi usia, keluar masuknya ternak untuk mengurangi resiko penyakit
Prioritas penanganan status kesehatan seluruh ternak
Setiap personil wajib menerapkan praktek sanitasi dengan ketat
Dilakukan bedah bangkai pada setiap kematian ternak
Sapi yang abortus diambil darahnya sebagai sampel
Setiap pengunjung wajib mematuhi tindakan sanitasi dengan ketat
Bersihkan kendaraan & peralatan tercemar sebelum dipakai pada kelompok hewan sehat
GMP untuk pencegahan penyakit infeksi masuk ke area pembibitan:
• Mengetahui riwayat kesehatan sejak dari tempat pembelian
• Mengetahui status kesehatan yang dibawa ke area pembibitan
• Jangan pernah membawa masuk hewan tanpa diketahui riwayat vaksinasi
• Jangan membeli, meminjam atau menyewa pejantan dari farm lain
• Beli sapi hanya dari farm yang bebas Johne’s disease (bersertifikasi)
• Batasi pembelian sapi dara kosong & pejantan perjaka
• Karantina sapi baru selama 21 – 30 hari
• Angkut ternak dengan kendaraan yang bersih
• Buat program pengendalian hewan penyebab penyebar penyakit (tikus dll)
• Ternak yang mati segera disingkirkan dari area
• Batasi pengunjung di kandang sapi, tempat pencampuran pakan, klinik hewan

GMP untuk manajemen pedet :
Dibuat rencana vaksinasi dan control parasit
Sapi pengganti ditempatkan terpisah dari sapi lain minimal 6 bulan
Tempat ternak bersih dan terdesinfeksi
Semua pedet berasal dari induk yang sudah teruji bebas penyakit infeksi
Semua kolostrum untuk pedet berasal dari sapi yang telah diuji bebas dari penyakit infeksi
Semua pedet mempunyai nomor identifikasi

GMP untuk pencegahan Johne’s disease :
• Memahami bagaimana johne’s disease dapat menyerang ternak dan bagaimana cara penyebarannya
• Seluruh kelompok diskrining dengan uji ELISA antibody
• Seluruh kelompok diuji dengan biakan feses
• Bila uji serologis positif, hewan diafkir
• Sapi dara pengganti diuji sebelum masuk kedalam kelompok
• Pedet dari induk seropositif diafkir

GMP untuk pencegahan Bovine Leukosis :
• Jangan gunakan jarum suntik, sarung tangan pplastik lebih dari satu kali
• Sapi penghasil kolostrum untuk pedet harus diuji terhadap bovine leukosis
• Sapi yang baru dibeli harus sudah diuji di karantina

GMP untuk pencegahan Bovine Viral Diarrhea :
• Pemahaman terhadap “persistenly infected /PI” BVD
• Hindari adanya pedet PI dalam kelompok ternak
• Hindari adanya pedet PI sebagai calon dara pengganti
• Skrining BVD dan penyingkiran dari keolompok
• Vaksinasi

GMP untuk pencegahan Salmonella :
Pemahaman terhadap salmonella dapat menular ke manusia
Isolasi sapi sakit dalam kandang karantina untuk mencegah kontaminasi silang
Bersihkan semua peralatan yang digunakan pada hewan sakit

Kandang beranak, kandang pedet selalu kering, bersih dan didesinfeksi
Uji paka penguat terhadap salmonella
Cegah burung, kucing, rodensia, anjing ke akses pakan dan air minum ternak
Batasi kendaraan pengangkut dalam area pakan, area ternak

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan :
Untuk dapat melaksanakan kegiatan pengendalian penyakit pada usaha budidaya sapi potong perlu diperhatikan :
 Pola pakan
 Kebersihan kandang
 Kebersihan alat
 Kebersihan lingkungan
 Program Kesehatan Kelompok Ternak (PKKT)
 Biosecurity

B. Rencana Tindak Lanjut (RTL)
Setelah mempelajari paket pembelajaran ini peserta pelatihan pembibitan sapi potong dapat melakukan identifikasi penyakit pada sapi potong serta cara - cara pengobatan, pencegahan dan penanggulangannya dilapangan dengan baik bagi kelompok tani / ternak tempat penyuluhannya .

Reproduksi Ternak Ruminansia

BAB I
PENDAHULUAN
LATAR BELAKANG
Usaha peternakan di Indonesia sampai saat ini masih menghadapi banyak kendala, yang mengakibatkan produktivitas ternak masih rendah. Salah satu kendala tersebut adalah masih banyaknya gangguan reproduksi menuju kemajiran pada ternak betina. Akibatnya, efisiensi reproduksi akan rendah dan kelambanan perkembangan populasi ternak. Dengan demikian perlu adanya pengelolaan ternak yang baik agar daya reproduksi meningkat sehingga menghasilkan efisiensi reproduksi tinggi yang diikuti dengan produktivitas ternak yang tinggi pula.

BAB II
PENGELOLAAN REPRODUKSI

A. PENDAHULUAN
Reproduksi merupakan proses yang majemuk pada setiap individu ternak. Reproduksi merupakan proses perkembangan suatu makhluk hidup yang dimulai sejak bersatunya sel telur dan sel mani menjadi individu baru yang disebut zigot yang disusul dengan kebuntingan dan diakhiri dengan kelahiran.

Sapi betina tidak hanya memproduksi sel kelamin yang sangat penting untuk mengawali kehidupan turunan yang baru, tetapi ia juga menyediakan tempat beserta lingkungannya untuk perkembangan individu baru .

Usaha peternakan di Indonesia sampai saat ini masih banyak menghadapi kendala yang mengakibatkan produktivitas ternak yang rendah. Hal ini ditengarai dengan banyaknya laporan dari peternak mengenai kasus gangguan reproduksi yang mengakibatkan kerugian yang besar terhadap pemilik ternak.
Setiap induk ternak yang dimiliki oleh peternak mempunyai tiga kemungkinan status reproduksi, yaitu :
1) Berada pada kondisi kesuburan yang normal
2) Kondisi kemajiran ringan atau infertile
3) Kondisi kemajiran yang tetap (steril)

Ketiga status tersebut diatas tergantung pada baik atau tidaknya tingkat pengelolaan reproduksi pada ternak. Bila suatu kawasan peternakan banyak menghadapi kasus gangguan reproduksi, ada beberapa parameter yang dapat dipakai sebagai acuan yang menyatakan bahwa wilayah tersebut terdapat gangguan reproduksi :
1. Jarak antara beranak lebih dari 400 hari
2. Jarak antara melahirkan sampai bunting kembali melebihi 120 hari
3. Angka kebuntingan kurang dari 50 %
4. Rata rata jumlah perkawinan perkebuntingan lebih besar dari dua
5. Jumlah induk sapi yang membutuhkan lebih dari tiga kali IB untuk terjadinya kebuntingan melebihi 30 %.

Melihat betapa pentingnya proses reproduksi bagi suatu usaha peternakan bila mengingat bahwa tanpa adanya reproduksi, mustahil produksi ternak dapat diharapakan menjadi maksimal. Oleh sebab itu pengelolaan reproduksi merupakan bagian yang amat penting dalam suatu usaha peternakan.

Faktor pengelolaan reproduksi meliputi :
1. Pemberian pakan yang berkualitas dan cukup
2. Lingkungan serasi yang mendukung perkembangan ternak
3. Tidak menderita penyakit khususnya penyakit menular kelamin
4. Tidak menderita kelainan anatomi kelamin yang bersifat menurun
5. Tidak menderita gangguan keseimbangan hormone khususnya hormone reproduksi
6. Sanitasi kandang yang baik.

Untuk mendukung keberhasilan pengelolaan reproduksi perlu juga dilaksanakan program kesehatan reproduksi meliputi :
1. Meningkatkan keterampilan dan kesdaran beternak bagi para peternak
2. Pemeriksaan secara tetap tiap bulan pada ternak betina oleh petugas kesehatan reproduksi
3. Penilaian terhadap prestasi reproduksi induk.
4. Pelaksanaan perubahan pengelolaan reproduksi menuju keuntungan yang lebih baik, yang meliputi :
a. Penyediaan ransum pakan untuk induk yang sedang bunting dan laktasi
b. Keserasian kondisi lingkungan untuk pertumbuhan ternak
c. Deteksi Berahi yang tepat
d. Waktu tepat kawin
e. Pengelolaan yang tepat terhadap uterus pasca melahirkan.

B. ANATOMI REPRODUKSI BETINA
Organ reproduksi pada sapi betina terdiri dari organ genitalia interna (ovarium,oviduk,uterus,cervix uteri dan vagina) dan organ genitalia eksterna (vestibulum dan vulva). Ovarium merupakan organ reproduksi primer yang menghasilkan ova dan hormon-hormon kelamin betina. Sedangkan oviduk,uterus,cervix uteri,vagina dan vulva merupakan organ reproduksi sekunder yang berfungsi menerima dan menyalurkan sel-sel kelamin jantan dan betina,memberi makan dan melahirkan individu baru.

OVARIUM
Berbeda dengan testis, ovarium tertinggal di dalam cavum abdominalis. Ia mempunyai dua fungsi, sebagai organ eksokrin yang menghasilkan sel telur atau ovum dan sebagai organ endokrin yang mensekresikan hormon-hormon kelamin betina,estrogen dan progesteron. Ovarium sapi dan domba berbentuk oval.

Pada sapi ukuran ovarium bervariasi dengan panjang 1,3-5,0 cm, lebar 1,3-3,2 cm, dan tebal 0,6-1,9 cm. Ovarium kanan umumnya lebih besar daripada ovarium kiri, karena secara fisiologik dia lebih aktif. Berat ovarium juga bervariasi antara 10 sampai 20 gram.

OVIDUK (Tuba Fallopii)
Oviduk atau Tuba Fallopii merupakan saluran kelamin paling anterior, kecil, berliku-liku dan terasa keras seperti kawat terutama pada pangkalnya. Pada sapi panjangnya mencapai 20-30 cm dan diameternya 1,5-3,0 cm.
Fungsi oviduk adalah menerima atau menangkap sel telur yang diovulasikan.

UTERUS

Uterus merupakan suatu struktur saluran muskuler yang diperlukan untuk penerimaan ovum yang telah dibuahi, nutrisi dan perlindungan foetus, dan stadium permulaan ekspulsi foetus pada waktu kelahiran. Uterus teridiri dari cornua, corpus, dan cervix. Pada sapi, domba dan kuda mempunyai uterus jenis uterus bipartitus, terdapat suatu dinding penyekat (septum) yang memisahkan kedua cornua dan corpus uteri yang cukup panjang. Cornu uteri pada sapi dan domba berlekuk seperti tanduk domba jantan. Pada sapi dara setiap cornu uteri membentuk satu putaran spiral lengkap, sedangkan pada sapi-sapi pluripara (sudah sering beranak) spiral tersebut sering hanya mencapai setengah putaran.

Uterus mempunyai sejumlah fungsi penting. Pada waktu perkawinan, kerja kontraksi uterus mempermudah pengangkutan sperma ke oviduk. Sebelum implantasi, ia mengandung cairan uterus yang menjadi medium bersifat suspensi bagi blastocyt,dan sesudah implantasi uterus menjadi tempat pembentukan placenta dan perkembangan foetus.

CERVIX UTERI

Cervix atau leher uterus merupakan suatu otot sphincter tubuler yang sangat kuat dan terdapat antara vagina dan uterus. Dindingnya lebih keras, lebih tebal dan lebih kaku daripada dinding-dinding uterus atau vagina, dan dinding cervix ditandai oleh berbagai penonjolan-penonjolan. Pada ruminansia penonjolan-penonjolan ini terdapat dalam bentuk lereng-lereng transversal dan saling menyilang, disebut cincin-cincin annuler. Cincin-cincin ini sangat nyata pada sapi (biasanya 4 buah) dan domba, yang dapat menutup rapat cervix secara sempurna. Cervix uteri berfungsi sebagai saluran yang memudahkan (dengan mukus cervixnya) sperma menuju lumen uterus, berperan menyeleksi sel sperma yang viable dari sel sperma yang non viable dan cacat/rusak,menutup dan menjaga kondisi uterus selama masa kebuntingan.

VAGINA

Vagina adalah organ kelamin betina dengan struktur selubung muskuler yang terletak di dalam rongga pelvis dorsal dari vesica urinaria, dan berfungsi sebagai alat kopulatoris dan sebagai tempat berlalu bagi foetus sewaktu partus.

ORGAN GENITALIA EKSTERNA
Alat kelamin luar terbagi atas vestibulum dan vulva. Vulva terdiri atas labia majora,labia minora,commisura dorsalis dan ventralis serta clitoris.
Vestibulum memiliki beberapa otot sirkuler atau seperti sphincter yang menutup saluran kelamin terhadap dunia luar. Selama partus vestibulum berfungsi sebagai tempat tumpuan pertautan bagi seluruh saluran kelamin yang berkontraksi sewaktu mengeluarkan foetus.

C. SIKLUS BERAHI
Produktifitas ternak tergantung langsunng maupun tidak langsung pada kemampuan reproduksinya. Ternak dengan kecepatan reproduksi tinggi, disertai seleksi yang baik dalam perkawinannya pasti akan meningkatkan produksi hasil ternaknya.
Target manajemen reproduksi pada suatu kelompok ternak :
1. mendapatkan pedet yang sehat dari satu kelahiran pertahun
2. meningkatkan mutu genetic pedet
3. waktu laktasi 305 hari

Untuk meningkatkan efisiensi reproduksi :
1. Penyembuhan uterus normal selama 6 minggu
2. Penampakan tanda birahi dan recover ovulasi
3. Deteksi birahi secara tepat dan peningkatan kebuntingan setelah IB
4. Semen dengan kualitas baik di IBkan pada 12 – 18 jam sebelum ovulasi.

1. Pubertas
Perkembangan dan pendewasaan alat kelamin dipengaruhi oleh banyak faktor, diantaranya adalah bangsa sapi dan manajemen pemberian pakan. Dalam kondisi pemberian pakan yang baik pubertas pada sapi betina dapat terjadi pada umur 5 – 15 bulan. Berat badan dan atau besar tubuh lebih penting daripada umur, sebab sapi yang diberi pakan rendah dua kali lebih tua daripada umur yang dicapai oleh sapi dengan tingkatan yang tinggi. Dimana bobot badan yang ideal untuk pubertas berkisar 227 – 272 kg pada umur rata – rata 15 bulan.
Sapi mencapai dewasa kelamin sebelum dewasa tubuh tercapai. Keterangan ini memberi petunjuk agar tidak mengawinkan sapi betina pada waktu munculnya tanda-tanda pubertas yang pertama, Karen ajika mengawinkan terlalu cepat, maka sapi akan bunting dengan kondisi badan masih dalam proses pertumbuhan, maka tubuhnya harus menyediakan makanan untuk pertumbuhan dirinya dan anak dalam rahimnya.
Umur Pubertas (bulan)
Bangsa Betina Jantan
Kambing – Domba 7-10 4-6
Babi 4-7 4-8
Sapi 8-11 10-12
Sapi Brahman 15-18
Kuda 15-18 13-18

Waktu pubertas lebih dipengaruhi oleh perkembangan tubuh dibandingkan dengan umur
% Berat Badan Saat Pubertas
Sapi Perah 30-40% BB dewasa
Sapi Potong 45-55% BB dewasa
Kambing 40-60% BB dewasa

2. Urutan Waktu Dalam Siklus Birahi
a. Lama Siklus Birahi : 18 – 24 hari atau ± 21 hari
b. Lama birahi : 6 – 30 jam atau rata – rata 17 jam, tergantung umur
Birahi mulai sore lebih lama 2- 4 jam daripada birahi pagi
c. Waktu ovulasi : sejak awal birahi sampai ovulasi berkisar antara 16 – 65 jam atau rata – rata 25 – 30 jam
d. Birahi setelah beranak : 21 -80 hari atau rata – rata 60 hari sejak beranak, bisa juga tergantung interval pemerahan :
• Pada sapi yang diperah 4 kali sehari terjadi birahi ± 69 hari sejak beranak
• Pada sapi yang diperah 2 kali sehari terjadi birahi ± 46 hari sejak beranak atau rata – rata 60 hari
• Pada induk yang menyusui anak akan kembali birahi pada hari ke – 72 sejak beranak

3. Birahi / Estrus
Estrus adalah fase yang terpenting dalam siklus berahi, karena dalam fase ini hewan betina memperlihatkan gejala yang khusus untuk tiap-tiap hewan, dan dalam fase ini pula hewan betina mau menerima pejantan untuk kopulasi. Ciri khas dari estrus adalah terjadinya kopulasi. Jika hewan menolak untuk kopulasi, maka penolakan tersebut memberi pertanda bahwa hewan betina masih dalam fase proestrus atau fase estrus telah terlewat. Tanda lain yang umumnya mereka perlihatkan tanda gelisa, nafsu makan berkurang atau hilang sama sekali, menghampiri pejantan dan tidak lari bila pejantan menungganginya. Dalam servic jumlah lendir maupun jumlah sekresi lendir dalam tiap-tiap kelenjar bertambah. Pada sapi lendir yang dihasilkan oleh service ini bersifat bening, terang tembus dan mengalir ke vagina. Vagina dan vulva pada jenis hewan tidak memperlihatkan banyak perubahan, hanya pada dara (betina yang baru pubertas) pada umumnya terjadi kebengkakan vulva serta perubahan vaskularisasi hingga warnanya agak kemerah-merahan dan selalu terlihat pada waktu estrus.Perubahan-perubahan seperti ini pada hewan betina dewasa yang telah beberapa kali beranak, sering tidak nyata.

VARIASI SIKLUS ESTRUS PADA BERBAGAI SPESIES HEWAN

Domba Babi Sapi Kuda
Lama Siklus Berahi 14-19 hari 17-22 hari 18-24 hari 16-24 hari
Lama Berahi 24-36 jam 48-72 jam 12-19 jam 2-11 jam
Waktu Ovulasi 24-36 jam
(setelah awal berahi) 35-45 jam
(setelah awal berahi) 10-11 jam
(setelah akhir estrus) 1-2 hari
(sebelum akhir estrus)
Waktu untuk Inseminasi Buatan 12-18 jam
setelah awal
estrus 16-24 jam
setelah awal estrus dan diulang kembali
8-24 jam kemudian 7-18 jam
setelah awal berahi Hari kedua dan
hari-hari lain selama berahi
Peternak atau petugas akan mudah melakukan deteksi birahi apabila memahami tanda – tanda birahi sapi terjadi serta kebiasaan rutin sapi tersebut. Oleh sebab itu perlu adanya pola rutin deteksi birahi :
a. Deteksi 3 kali sehari yaitu pada pagi hari saat pagi, pada siang hari saat sapi dalam kondisi tenang / istirahat dan pada sore hari.
b. Waktu pengamatan birahi dilakukan sesuai dengan siklus birahi yaitu setiap hari ke -19 -23 (rata – rata pada hari ke – 21) setelah birahi sebelumnya. Kegiatan ini dapat dilakukan dengan bantuan kalender IB dan jika ada tanda – tanda segera lapor kepada petugas IB
c. Petugas dapat melakukan palpasi rectal untuk mengetahu kondisi ovarium
Angka kebuntingan tertinggi atau waktu IB terbaik adalah 4 – 20 jam sejak awal birahi

5. Saat Yang Tepat Melakukan Inseminasi Buatan Sapi
Dalam pelaksanaan di lapangan, baik inseminator maupun pemilik sapi sukar untuk dapat mengetahui saat dimulainya estrus, lebih-lebih saat ovulasi. Untuk memudahkan pelaksanaan, maka dibuat petunjuk umum yang dapat digunakan dengan mudah. Faktor yang terpenting dalam petunjuk tersebut adalah pengamatan terhadap berahi. Bila gejala berahi sudah terlihat maka saat inseminasi mudah ditentukan. Sehingga petunjuk praktisnya sebagai berikut, jika sapi terlihat berahi pada pagi hari ini, maka inseminasi harus dilakukan pada hari itu juga, sedangkan bila sapi terlihat berahi pada sore hari ini, maka inseminasi harus dilakukan pada esok harinya sebelum jam 12.00 siang.

PETUNJUK WAKTU MELAKUKAN I.B. PADA SAPI
Sapi terlihat berahi Saat yang baik melakukan I.B. Terlambat
Pada pagi hari ini I.B. Hari ini juga Ditangguhkan sampai besok
Sore atau malam hari I.B. besok pagi sebelum jam 12.00 siang Sesudah jam 12.00 esok harinya

D. KEBUNTINGAN
Periode kebuntingan dimulai dengan pembuahan dan berakhir dengan dengan kelahiran anak yang hidup. Kebuntingan pada sapi dapat didiagnosa melalui palpasi rectal dan penentuan kadar progesterone dalamserum darah. Darah dapat diambil pada hari 21 sampai 24 sesudah IB untuk diperiksa di laboratorium dengan metode radioimmunoassay (RIA) atau metode ELISA.
PEMERIKSAAN KEBUNTINGAN
INDIKASI LUAR
Berhentinya gejala-gejala birahi sesudah IB sudah bisa menandakan adanya kebuntingan, akan tetapi tidak berarti bahwa seratus persen akan terjadi kebuntingan. Peternak mungkin lalai atau tidak memperhatikan gejala birahi walaupun tidak terjadi kebuntingan. Kematian embrio dini atau abortus mungkin saja dapat terjadi. Perubahan-perubahan patologis dapat terjadi didalam uterus seperti myometra, sista ovarium bisa menyebabkan kegagalan birahi. Penelitian menunjukkan tidak ada hubungan antara perdarahan setelah IB dengan konsepsi.
Kelenjar susu pada sapi dara berkembang dan membesar mulai kebuntingan 4 bulan. Pada sapi yang pernah beranak/ sering beranak pembesaran ambing terjadi pada 1 sampai 4 minggu menjelang kelahiran.
Ternak betina bertambah tenang, lamban dan hati-hati dalam pergerakannya sesuia dengan bertambahnya umur kebuntingan. Pada minggu terakhir kebuntingan ada kecenderungan pertambahan berat badan. Pada akhir kebuntingan ligamentum pelvis mengendur, terlihat legokan pada pangkal tulang ekor, oedema dan relaksasi vulva.
Pada umur kebuntingan 6 bulan keatas gerakan fetus dapat dipantulkan dari dinding luar perut. Fetus teraba sebagai benda padat dan besar yang tergantung berayun didalam struktur lunak perut (abdomen).

INDIKASI DALAM
Palpasi per-rektal terhadap uterus, ovaria dan pembuluh darah uterus adalah cara diagnosa - diagnose kebuntingan yang paling praktis dan akurat pada sapi dan kerbau.
Sebelum palpasi rektal perlu dikatahui :
• Sejarah perkawinan ternak yang bersangkutan
• Tanggal melahirkan terakhir
• Tanggal dan jumlah perkawinan atau IB
• Kejadian-kejadian penyakit pada ternak tersebut
Catatan reproduksi yang lengkap sangat membantu dalam menentukan kebuntingan secara cepat dan tepat.


E. KELAHIRAN
Sejumlah teori telah banyak memaparkan mengenai penyebab awal kelahiran, pada umumnya didasarkan atas pengaruh hormon dan keterbatasan perluasan dan pertumbuhan uterus. Bukti – bukti menyatakan bahwa kadar estrogen menaik menjelang akhir kebuntingan dan kenaikan ini menimbulkan kepekaan urat daging uterus dan menghentikan perluasan uterus. Akibat tekanan didalam uterus yang meningkat akan menyebabkan bertambahnya rangsangan . Kenaikan tekanan dalam uterus beserta bertambahnya kepekaan uterus akan menyebabkan dilepaskannya hormon oxytocin sehingga terjadi kontraksi uterus yang kuat yang mendorong fetus keluar.

GEJALA-GEJALA MENJELANG PARTUS
Gejala-gejala menjelang partus hampir sama pada semua ternak, tetapi tidak konstan antara individu ternak. Oleh karena itu gejala –gejala ini tidak dapat dipakai untuk meramalkan secara tepat waktu partus seekor ternak, tetapi dapat merupakan indikasi yang baik terhadap perkiraan waktu kelahiran yang diharapkan.
Pada sapi ligamen-ligamen pada pelvis (urat-urat daging pada pinggul) sangat mengendur yang menyebabkan penurunan urat daging pada bagian belakang. Pada kebanyakan sapi pengenduran urat-urat daging ini menandakan bahwa partus kemungkinan akan terjadi dalam waktu 24 sampai 48 jam.
Vulva menjadi sangat oedematus (bengkak), melonggar sampai 2-6 kali dari ukuran normal. Ambing membesar dan oedematus. Pada sapi dara pembengkakan dimulai bulan ke empat pereode kebuntingan, pada sapi yang pernah beranak (pluripara) pembesaran ambing mungkin tidak nyata 2- 4 minggu sebelum partus.
Suatu lendir putih, kental dan lengket keluar dari bagian kranial vagina mulai bulan ke tujuh masa kebuntingan, lendir tersenut makin banyak keluar menjelang kelahiran. Segera sebelum partus jumlah lendir sangat meningkat.
Selama beberapa jam sebelum partus ternak memperlihatkan penurunan napsu makan dan ketidaktenangan, mengibas-ngibaskan ekor, menyentak-nyentak kaki, berbaring dan bangkit lagi kembali.

TAHAP-TAHAP KELAHIRAN
Walaupun aktivitas partus merupakan suatu proses yang berkesinambungan, tetapi sebagai gambaran diskriptif dapat dibagi 3 tahap.

Tahap Pertama
Tahap ini ditandai dengan konstraksi aktif serabut-serabut urat daging pada dinding rahim (uterus) dan melebarnya (dilatasi) leher rahim (cervix). Kondisi ini terjadi karena adanya perubahan hormonal dalam tubuh induk menjelang kelahiran. Konstraksi uterus terjadi setiap 10 menit sampai 15 menit dan berlangsung sampai 15 sampai 30 detik.
Tahap pertama pada sapi yang baru pertama kali melahirkan nampak berlangsung lebih lama daripada sapi yang sudah pernah beranak. Pada tahap pertama ini yang nampak adalah ternak kalihatan gelisah, napsu makan turun, sebentar berbaring sebentar berdiri. Menjelang akhir tahap ini ketuban (allantochorion) nampak keluar dari vagina dan kemudian pecah. Fetus sudah mulai memposisikan diri untuk keluar dari uterus

Tahap Kedua
Tahap kedua ini ditandai oleh pemasukan fetus kedalam saluran kelahiran yang berdilatasi, pecahnya kantong ketuban (allantois), kontraksi abdominal atau perejanan dan pengeluaran fetus melalui vulva. Selama tahap kedua ini, uterus mengalami perejanan 4 sampai 8, setiap 10 menit dan berlangsung 80 sampai 100 detik. Perejanan berulang-ulang berlangsung terus dan kaki fetus terlihat di vulva. Sewaktu kaki fetus melewati vulva, kantong amnion pecah. Peningkatan konstraksi abdominal terjadi pada waktu kepala, bahu dan pinggul fetus memasuki pelvis. Ketika kepala fetus memasuki vulva, pada saat inilah terjadi perejanan perut (abdominal) yang terkuat pada proses partus. Sesudah kepala fetus melewati vulva, biasanya induk istirahat untuk beberapa menit sebelum kembali merejan dengan kuat sewaktu dada fetus berlalu melewati saluran pelvis. Pinggul segera menyusul kemasuki saluran kelahiran. Tahap kedua proses kelahiran berlangsung 0,5 sampai 3 atau 4 jam. Pada sapi yang sudah sering beranak tahap ini hannya memerlukan setengah sampai satu jam.

Tahap Ketiga
Tahap ketiga ini adalah tahap terakhir dari suatu proses kelahiran yang ditandai dengan pengeluaran selaput fetus/ ari-ari (plasenta) dan involusi uterus. Pengeluaran plasenta secara normal selasai dalam beberapa jam setelah pengeluran fetus. Lama waktu yang diperlukan yntuk pengeluaran plasenta pada sapi adalah 0,5 sampai 8 jam.

D. GANGGUAN REPRODUKSI DAN PENANGANANNYA
Gangguan Reproduksi Yang Biasa Terjadi Pada Sapi :
A. Birahi tenang (Silent Heat)
Birahi tenang atau birahi tidak teramati banyak dilaporkan pada sapi potong; sapi dengan birahi tenang mempunyai siklus reproduksi normal, namun gejala birahinya tidak terlihat. Birahi tenang akan mengakibatkan peternak tidak dapat mengetahui kapan sapinya birahi, sehingga tidak dapat dikawinkan dengan tepat.
Birahi tenang pada sapi karena beberapa kemungkinan yaitu :
a. faktor genetis
b. manajemen peternakan yang kurang baik
c. defisiensi komponen-komponen pakan atau defisiensi nutrisi,
d. kondisi fisik jelek, kebanyakan karena parasit interna (cacing),

B. Tidak birahi sama sekali (anestrus)
Tidak birahi sama sekali atau anestrus adalah keadaan dimana memang tidak terjadi siklus reproduksi, tidak ada ovulasi, sehingga tidak terjadi gejala birahi sama sekali. Kasus anestrus pada sapi perah cukup banyak ditemui, umumnya terjadi setelah beranak. Anestrus pada sapi perah akibat defisiensi nutrisi umumnya berupa penurunan ovaria (hipofungsi ovaria) bisa mencapai 90% dan akibat adanya peradangan saluran reproduksi 10%.

C. Kawin berulang (Reapet Breeder)
Kawin berulang adalah induk ternak yang mempunyai siklus birahi normal dan gejala birahi yang jelas tetapi bila dikawinkan atau di inseminasi buatan berulang-ulang tidak pernah menjadi bunting.
Penyebab kawin berulang adalah:
 Faktor kegagalan pembuahan (fertilization failure)
 Faktor kematian embrio dini (early embrionic death)

Penanganan gangguan reproduksi dapat dilakukan sebagai berikut :
a. Perbaikan kondisi tubuh, usahakan kondisi fisik (body condition score = BCS, skor kondisi tubuh = SKT) optimum untuk reproduksi, yaitu sekitar 3,0 dari suatu cara penilaian kondisi tubuh antara 1 (kekurusan) dan 5 (kegemukan). Perbaikan kondisi tubuh dapat lebih cepat dibantu dengan perbaikan pemberian pakan yang berkualitas dan dalam jumlah yang cukup, dan pemberian obat cacing secara teratur (reguler).

b. Intensifikasi pengamatan birahi individu sapi. Penanganan yang lebih sering, terutama pada waktu malam hari. Pengamatan birahi akan lebih mudah bila dimungkinkan untuk menjadikan sejumlah sapi-sapi betina yang berdekatan dalam satu kandang lepas besar atau dalam satu padangan untuk dilakukan inseminasi buatan atau kawin pejantan.

c. Aplikasi sinkronisasi birahi dan ovulasi dengan mempertimbangkan perhitungan ekonomis.

Menyusun Ransum Sapi

PENDAHULUAN

Usaha sapi potong mempunyai banyak keuntungan antara lain membutuhkan modal yang relatif lebih kecil dan harga daging masih relatif tinggi, sehingga tingkat keuntungannya juga lebih tinggi. Selain itu tatalaksana pemeliharaannya juga relatif lebih mudah dibandingkan dengan sapi perah.
Permasalahan yang terjadi di tingkat peternak adalah produktivitas ternak potong rata-rata masih rendah. Hal ini disebabkan kualitas ransum, bibit dan tatalaksana pemeliharaan yang belum optimal. Salah satu upaya pemecahan masalah rendahnya pertambahan bobot badan harian adalah dengan meningkatkan kualitas ransum pada saat penggemukan. Peningkatan kualitas ransum terutama kandungan Protein Kasar (PK) dan Total Digestible Nutrients (TDN) diperlukan pada saat penggemukan. Hal ini berkaitan dengan meningkatnya proses metabolisme tubuh untuk memenuhi kebutuhan hidup pokok dan pertambahan bobot badannya. Ransum yang biasanya diberikan pada ternak potong di tingkat peternak pada umumnya memiliki kandungan protein kasar antara 9 – 12% (Siregar, 1994). Dengan kisaran tersebut akan menimbulkan permasalahan yaitu kebutuhan dasar protein untuk ternak serta perkembangan mikroba rumen kurang, karena mikroba rumen akan dapat berkembang dengan baik pada saat kadar protein kasar ransum yang diberikan pada ternak sebesar 13,4% (Tamminga, 1979).
Ransum yang seimbang sesuai dengan kebutuhan ternak merupakan syarat mutlak dihasilkannya produktivitas yang optimal tentunya dengan memperhatikan harga pakan yang ekonomis.

MENGHITUNG KEBUTUHAN NUTRISI PAKAN TERNAK

Ternak ruminansia maupun makhluk hidup lainnya membutuhkan sejumlah zat – zat gizi guna memenuhi kebutuhan hidupnya. Kebutuhan hidup ternak ruminansia, khususnya, terdiri dari kebutuhan hidup pokok dan kebutuhan untuk produksi. Kebutuhan hidup pokok adalah kebutuhan zat – zat gizi untuk memenuhi proses – proses hidup saja tanpa adanya suatu kegiatan dan produksi (pertumbuhan, kerja dan produksi susu). Sedangkan kebutuhan produksi adalah kebutuhan zat – zat gizi untuk pertumbuhan, kebuntingan, produksi susu dan kerja,
Dalam menghitung kebutuhan nutrisi ternak ditentukan oleh performance / penampilan ternak, dimana hal ini dapat berupa berat badan, pertambahan berat badan harian, masa kebuntingan dan menyusui. Bila seekor ternak diberi makanan untuk kepentingan pertumbuhan, penggemukan, produksi air susu atau untuk kepentingan fungsi produksi lainnya, maka sebagian makanan itu dipergunakan untuk menunjang proses dalam tubuh yang harus dilaksanakan walaupun ada atau tidak ada pembentukan jaringan baru atau produksi. Kebutuhan-kebutuhan akan makanan untuk menjaga integritas jaringan tubuh dan mencukupi energi guna proses essensial organisme hidup disebut kebutuhan hidup pokok organisme tersebut.
Sehingga bisa dikatakan bahwa apabila kebutuhan hidup pokoknya sudah terpenuhi, maka sisa nutrisi dalam makanan tersebut akan digunakan untuk proses produksi. Jika ternak tidak mendapatkan suplai makanan yang cukup untuk kebutuhan pokok hidupnya, maka dia tidak akan bisa memenuhi target untuk berproduksi. Bahkan ternak tersebut akan merombak cadangan makanan di dalam tubuhnya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, sehingga ternak menjadi kurus.
Kebutuhan hidup pokok tergantung pada bobot badan. Semakin tinggi bobot badan ternak ruminansia, maka akan semakin banyak pula jumlah zat – zat gizi yang dibutuhkan. Kebutuhan zat gizi untuk produksi tergantung pada tingkat dan jenis produksi.
a. Kebutuhan zat – zat gizi untuk pertumbuhan ternak tergantung pada besar dan kecepatan pertumbuhannya. Ternak ruminansia yang tumbuh dengan cepat membutuhkan zat gizi yang lebih banyak pula.
b. Kebutuhan untuk kebuntingan tergantung pada umur atau lama kebuntingan. Umur kebuntingan yang semakin tua membutuhkan zat – zat gizi yang semakin banyak pula.
c. Kebutuhan untuk produksi susu tergantung pada jumlah susu yang diproduksi dan kadar lemaknya. Makin tinggi jumlah dan kadar lemak susu yang diproduksi, maka semakin tinggi pula jumlah zat – zat gizi yang dibutuhkan.

Zat – zat gizi yang diperlukan oleh ternak ruminansia untuk kebutuhan hidup pokok maupun produksi adalah energi, protein, mineral, vitamin dan air. Zat – zat gizi tersebut terdapat dalam berbagai jenis pakan yang dapat diformulasikan menjadi ransum.

• ENERGI
Dalam pengertian sederhana energi adalah kemampuan untuk melakukan kerja. Energi merupakan zat gizi yang banyak dibutuhkan ternak ruminansia setelah air. Banyaknya energi yang terkandung di dalam pakan atau energi yang dibutuhkan ternak ruminansia dapat dinyatakan dalam berbagai cara, seperti energi metabolis, martabat pati, atau total digestible nutrient.
Total digestible nutrient yang disingkat TDN adalah jumlah energi dari pakan maupun ransum yang dapat dicerna. Semua pakan mengandung zat – zat makanan yang dapat menjadi sumber energi, yakni protein, serat kasar, lemak dan bahan ekstrak tanpa N (beta-N). Dari ketiga sumber energi (karbohidrat, lemak, protein), sebagian besar energi yang dibutuhkan ternak ruminansia diperoleh dari karbohidrat. Hal ini dapat dipahami, sebab penggunaan lemak dalam jumlah banyak dapat menimbulkan efek negatif pada ternak. Sedangkan protein merupakan sumber energi yang mahal dibandingkan karbohidrat dan lemak.

• PROTEIN
Sebenarnya yang dibutuhkan oleh ternak ruminansia dari protein adalah asam - asam amino. Di dalam tubuh ternak ruminansia, protein ini ada yang bisa disintesa, namun ada pula yang tidak bisa disintesa. Protein yang tidak bisa atau hanya sebagian kecil saja yang bisa disintesa di dalam tubuh ternak ruminansia disebut asam amino esensial. Sedangkan protein yang bisa disintesa di dala tubuh ternak ruminansia disebut asam amino non-esensial.
Asam amino yang dibutuhkan ternak ruminansia sebagian dipenuhi dari protein mikroba dan sebagian lagi dari protein pakan / ransum yang lolos dari fermentasi di dalam rumen (protein-by pass). Protein yang dibutuhkan ternak ruminansia yaitu dalam bentuk protein kasar dan protein dapat dicerna. Protein kasar adalah jumlah nitrogen (N) yang terdapat di dalam pakan / ransum dikalikan dengan 6,25 (N x 6,25). Sedangkan protein dapat dicerna adalah protein pakan / ransum yang dicerna dan diserap dalam saluran – saluran pencernaan. Sumber protein bagi ternak ruminansia adalah protein natural (protein pakan / ransum) dan non protein nitrogen (NPN).
Salah satu senyawa NPN yang telah umum dikenal adalah urea. Urea ini merupakan suatu senyawa kimia yang mengandung nitrogen 40 – 45%. Urea dapat digunakan sebagai salah satu sumber nitrogen bagi ternak ruminansia karena adanya mikroorganisme di dalam rumennya. Namun, perlu ditegaskan bahwa penggunaan urea dalam ransum ternak ruminansia tersebut adalah sebagai substitusi sebagian proten ransum atau sebagai suplemen terhadap ransum yang berkualitas rendah. Penggunaan urea dalam ransum ternak ruminansia mempunyai batas – batas tertentu agar tidak terjadi keracunan. Sebaiknya, pemberian urea juga tidak dicampur dengan jerami kacang kedelai, sebab jerami kacang kedelai mengandung enzim yang dapat menyebabkan urea bersifat racun pada ternak ruminansia.

• MINERAL
Banyak proses – proses di dalam tubuh ternak hanya dapat berjalan dengan sempurna berkat adanya mineral. Diantara mineral – mineral yang terpenting adalah Na, Cl, K, Fe, Cu, Mg, Ca dan P. Pada umumnya Na dan Cl diberikan dalam bentuk garam dapur. Di samping unsur Na dan Cl, di dalam ransum sapi perah dan kambing perah yang sedang berproduksi susu perlu diperhatikan pula kecukupan unsur Ca, P dan Mg. Unsur – unsur lainnya dianggap telah mencukupi dalam ransum yang diberikan dan tidak perlu ditambahkan, kecuali bila terjadi gejala defisiensi.
Pemberian Na dan Cl dalam bentuk garam dapur untuk kambing, domba, maupun sapi dalam masa pertumbuhan cukup sekitar 1% dari jumlah konsentrat yang diberikan. Mineral lainnya yang perlu diperhatikan di dalam ransum kambing dan domba adalah Ca, P dan Mg.

• VITAMIN
Walaupun jumlah yang dibutuhkan relatif kecil, namun vitamin sering merupakan faktor yang ikut menentukan dalam produksi ternak. Jenis vitamin yang sudah dikenal antara lain vitamin A, vitamin B-kompleks, vitamin C, vitamin D, vitamin E dan vitamin K. Vitamin B, K dan C tidak perlu diperhatikan maupun ditambahkan di dalam ransum ternak ruminansia. Sebab, vitamin B dan K dapat dibentuk di dalam rumen, sedangkan vitamin C dalam jaringan tubuh ternak ruminansia.
Dalam keadaan normal, vitamin – vitamin yang dibutuhkan ternak ruminansia pada umumnya sudah terpenuhi dari ransum yang diberikan, kecuali vitamin A dan E yang sering kekurangan. Tingkat kecukupan vitamin D untuk ternak ruminansia di daerah tropis tidak menjadi masalah dan tidak perlu ditambahkan dalam ransum yang diberikan.

• AIR
Selain merupakan bagian dari organ – organ tubuh ternak, air di dalam tubuh ternak berfungsi dalam transportasi zat – zat makanan melalui dinding – dinding usus masuk ke dalam peredaran darah, mengangkut zat – zat sisa, sebagai pelarut beberapa zat, dan mengontrol suhu tubuh. Begitu besar peranan air di dalam tubuh ternak sehingga apabila ternak kekurangan air sebanyak 10% dari jumlah kandungan air yang terdapat dalam tubuh ternak dapat menimbulkan gangguan kesehatan. Apabila kekurangan air itu mencapai 20% maka dapat menimbulkan kematian. Kebutuhan air pada ternak ruminansia khususnya, tergantung pada berbagai faktor. Beberapa diantaranya sebagai berikut :
 Keadaan ransum yang diberikan
 Suhu udara
 Produksi susu
 Besar tubuh

V. DATA
Tabel 1. Hubungan antara ukuran Lingkar Dada dengan Berat Badan Pada Sapi

Cm Kg Cm Kg Cm Kg Cm Kg Cm Kg
68 30 94 77 120 154 146 265 172 426
69 31 95 79 121 157 147 270 173 433
70 32 96 82 122 161 148 275 174 441
71 34 97 84 123 164 149 280 175 448
72 35 98 87 124 168 150 285 176 456
73 36 99 90 125 172 151 290 177 463
74 37 100 93 126 176 152 295 178 471
75 38 101 96 127 180 153 300 179 487
76 40 102 98 128 184 154 305 180 489
77 42 103 101 129 188 155 310 181 492
78 43 104 103 130 192 156 316 182 500
79 45 105 106 131 196 157 321 183 508
80 47 106 109 132 201 158 327 184 516
81 48 107 112 133 203 159 332 185 524
82 50 108 115 134 210 160 338 186 532
83 52 109 118 135 214 161 344 187 540
84 54 110 121 136 219 162 351 188 548
85 56 111 124 137 223 163 358 189 556
86 58 112 127 138 228 164 366 190 564
87 60 113 130 139 232 165 373 191 575
88 62 114 133 140 236 166 381 192 585
89 65 115 136 141 241 167 388 193 595
90 67 116 140 142 246 168 396 194 604
91 69 117 143 143 250 169 403 195 650
92 72 118 147 144 255 170 410 196 694
93 74 119 150 145 260 171 418 197 740

Tabel 3. Kebutuhan nutrisi sapi potong

BB PBB BK pakan kasar (Hijauan) PK TDN Ca P PK TDN Ca P
kg kg kg % BK % BK % BK % BK % BK gr gr gr gr

(pertumbuhan pedet dan penggemukan sapi muda betina)
100 0 2,1 100 8,7 50 0,18 0,18 182,7 1.040 3,8 3,8
0,5 3,0 70 - 80 12,4 55 0,47 0,37 372,0 1.647 14,1 11,1
0,7 2,9 50 - 60 14,4 62 0,66 0,48 417,6 1.801 19,1 13,9
1,1 3,0 15 17,8 77 0,97 0,63 534,0 2.322 29,1 18,9

150 0 2,8 100 8,7 50 0,18 0,18 243,6 1.386 5,0 5,0
0,5 4,1 70 - 80 11 55 0,34 0,29 451,0 2.251 13,9 11,9
0,7 4,0 50 - 60 12,4 62 0,45 0,35 496,0 2.484 18,0 14,0
1,1 4,0 15 15 77 0,7 0,5 600,0 3.096 28,0 20,0

200 0 3,5 100 8,5 50 0,18 0,18 297,5 1.733 6,3 6,3
0,3 5,4 100 9,1 50 0,18 0,18 491,4 2.673 9,7 9,7
0,7 6,0 70 - 80 10,2 58 0,3 0,27 612,0 3.456 18,0 16,2
1,1 5,0 15 12,8 77 0,5 0,38 640,0 3.870 25,0 19,0



250 0 4,1 100 8,5 50 0,18 0,18 348,5 2.030 7,4 7,4
0,3 6,4 100 8,9 50 0,18 0,18 569,6 3.168 11,5 11,5
0,7 5,8 55 - 65 10,5 65 0,29 0,26 609,0 3.758 16,8 15,1
1,1 6,5 20 - 25 11,4 72 0,38 0,31 741,0 4.680 24,7 20,2

300 0 4,7 100 8,6 50 0,18 0,18 404,2 2.327 8,5 8,5
0,3 7,4 100 8,5 50 0,18 0,18 629,0 3.663 13,3 13,3
0,7 6,6 55 - 65 10,1 65 0,24 0,23 666,6 4.277 15,8 15,2
1,1 7,5 20 - 25 10,4 72 0,31 0,27 780,0 5.400 23,3 20,3

350 0 5,3 100 8,5 50 0,18 0,18 450,5 2.624 9,5 9,5
0,3 8,2 100 8,5 50 0,18 0,18 697,0 4.059 14,8 14,8
0,7 7,9 55 - 65 9,2 62 0,19 0,19 726,8 4.906 15,0 15,0
1,1 8,3 20 - 25 9,9 72 0,24 0,23 821,7 5.976 19,9 19,1

400 0 5,9 100 8,5 50 0,18 0,18 501,5 2.921 10,6 10,6
0,3 9,1 100 8,5 50 0,18 0,18 773,5 4.505 16,4 16,4
0,5 8,5 70 - 80 8,8 58 0,18 0,18 748,0 4.896 15,3 15,3
0,9 8,4 20 - 25 9,4 69 0,2 0,2 789,6 5.821 16,8 16,8

450 0 6,4 100 8,5 50 0,18 0,18 544,0 3.168 11,5 11,5
0,2 8,7 100 8,5 50 0,18 0,1 739,5 4.307 15,7 8,7
0,8 9,1 35 - 45 9 68 0,18 0,18 819,0 6.143 16,4 16,4

(betina muda bunting, sepertiga akhir kebuntingan)

325 0,4 6,6 100 8,8 47 0,23 0,23 580,8 3.089 15,2 15,2
0,8 9,4 85 - 100 9,0 52 0,23 0,21 846,0 4.907 21,6 19,7

350 0,4 6,9 100 8,8 47 0,22 0,22 607,2 3.229 15,2 15,2
0,8 10,0 85 - 100 8,8 52 0,22 0,21 880,0 5.220 22,0 21,0

375 0,4 7,2 100 8,7 47 0,21 0,21 626,4 3.370 15,1 15,1
0,8 11,0 85 - 100 8,7 50 0,20 0,20 957,0 5.445 22,0 22,0

400 0,4 7,5 100 8,7 47 0,21 0,21 652,5 3.510 15,8 15,8
0,8 11,6 85 - 100 8,7 50 0,19 0,19 1009,2 5.742 22,0 22,0

425 0,4 7,8 100 8,8 47 0,20 0,20 686,4 3.650 15,6 15,6
0,8 12,1 85 - 100 8,7 50 0,18 0,18 1052,7 5.990 21,8 21,8

(betina dewasa bunting kering, pertengahan sepertiga kebuntingan)
400 - 6,1 100 5,9 47 0,18 0,18 359,9 2.855 11,0 11,0
500 - 7,2 100 5,9 47 0,18 0,18 424,8 3.370 13,0 13,0
600 - 8,3 100 5,9 47 0,18 0,18 489,7 3.884 14,9 14,9




(betina dewasa bunting kering, sepertiga akhir kebuntingan)
400 0,4 7,5 100 5,9 47 0,18 0,18 442,5 3.510 13,5 13,5
500 0,4 8,6 100 5,9 47 0,18 0,18 507,4 4.025 15,5 15,5
600 0,4 9,7 100 5,9 47 0,18 0,18 572,3 4.540 17,5 17,5

(induk menyusui, kemampuan menyusui sedang, 3 - 4 bulan setelah melahirkan)
400 - 8,8 100 9,2 47 0,28 0,28 809,6 4.118 24,6 24,6
500 - 9,8 100 9,2 47 0,28 0,28 901,6 4.586 27,4 27,4
600 - 11,0 100 9,2 47 0,25 0,25 1.012,0 5.148 27,5 27,5

(induk menyusui, kemampuan menyusui baik, 3 - 4 bulan setelah melahirkan)
400 - 10,8 100 10,9 50 0,42 0,38 1.177,2 5.346 45,4 41,0
500 - 11,8 100 10,9 50 0,39 0,36 1.286,2 5.841 46,0 42,5
600 - 12,9 100 10,9 47 0,36 0,34 1.406,1 6.037 46,4 43,9

(pejantan, bertumbuh dan hidup pokok, aktivitas sedang)
300 1,0 8,8 70 - 75 10,2 58 0,31 0,26 897,6 5.069 27,3 22,9
400 0,9 11,0 70 - 75 9,4 58 0,21 0,21 1.034,0 6.336 23,1 23,1
600 0,5 12,0 80 - 85 8,8 55 0,18 0,18 1.056,0 6.588 21,6 21,6
800 0,0 10,5 100 8,5 50 0,18 0,18 892,5 5.198 18,9 18,9
1.000 0,0 12,4 100 8,5 50 0,18 0,18 1.054,0 6.138 22,3 22,3



MENYUSUN RANSUM SAPI POTONG

A. Identifikasi Bahan Pakan Ternak Ruminansia

Pakan ternak ruminansia terdiri dari hijauan dan konsentrat. Hijauan yang digunakan sebagai pakan, dapat berupa hijauan segar maupun hijauan kering. Disamping itu, harus memenuhi persyaratan sebagai pakan antara lain tidak mengandung racun dan bermanfaat bagi ternak untuk kelangsungan hidupnya. Hal itu berlaku juga dengan konsentrat sebagai pakan ternak.
Menurut Lubis (1992), hijauan adalah bahan pakan dalam bentuk daun-daunan yang kadang-kadang masih bercampur dengan batang, ranting serta bunga yang pada umumnya berasal dari tanaman sebangsa rumput dan kacang-kacangan. Hijauan dapat pula diartikan sebagai pakan yang mengandung serat kasar yang relatif tinggi.
Hijauan yang dapat digunakan sebagai pakan ternak ruminansia adalah rumput gajah (Pennisetum purpureum), kaliandra, lamtoro, gamal, turi, daun nangka, dan lain-lain. Rumput gajah baik digunakan untuk pakan karena penanaman mudah, produksi dan nilai nutrisinya tinggi (Lubis, 1992). Produksi rumput gajah ± 150 ton/ha/tahun dengan pemotongan pertama pada umur 50 – 60 hari dan pemotongan selanjutnya dilakukan setiap 30 – 50 hari sekali (Reksohadiprodjo, 1981). Komposisi zat nutrisi yang terkandung dalam rumput gajah berdasarkan bahan keringnya adalah abu 10,6%, protein kasar 9,6%, serat kasar 32,7%, lemak kasar 1,9%, bahan ekstrak tanpa nitrogen (BETN) 45,2% dan total digestible nutrients (TDN) 54% (Siregar, 1994) .
Tanaman kaliandra dibedakan menjadi dua jenis yaitu kaliandra berbunga merah dan kaliandra berbunga putih. Kaliandra merah merupakan penghasil pakan ternak dengan kandungan protein di dalam daunnya cukup tinggi dan jumlah daun cukup banyak (Lembaga Biologi Nasional, 1983). Komposisi zat nutrisi yang terkandung dalam daun kaliandra merah berdasarkan bahan keringnya adalah abu 9,3%, protein kasar 27,7%, serat kasar 28,9%, lemak kasar 3,3%, bahan ekstrak tanpa nitrogen (BETN) 30,8% dan total digestible nutrients (TDN) 62% (Siregar, 1994).
Daerah tropis yang suhunya relatif lebih panas mempunyai kualitas hijauan yang cenderung lebih rendah, sehingga untuk pemenuhan zat-zat gizi yang tidak tersedia di dalam pakan hijauan dipenuhi melalui pakan konsentrat. Konsentrat adalah pakan yang mengandung serat kasar/bahan yang tak tercerna relatif rendah. Jenis bahan pakan penyusun konsentrat antara lain dedak padi, bungkil kelapa, ampas tahu, ampas kecap, bungkil kedelai, polard, onggok, dan lain-lain (Sutardi, 1981). Menurut Schmidt (1971) yang disitasi oleh Prihadi (1996), pakan konsentrat berfungsi sebagai penambah energi, disamping mengandung protein lebih dari 20% dan kandungan serat kasar kurang dari 18% serta mudah dicerna.
Hijauan merupakan sumber pakan utama untuk ternak ruminansia, sehingga untuk meningkatkan produksi ternak ruminansia harus diikuti oleh peningkatan penyediaan hijauan pakan yang cukup baik dalam jumlah maupun kualitas. Hijauan pakan ternak yang umum diberikan untuk ternak ruminansia adalah rumput-rumputan yang berasal dari padang penggembalaan atau kebun rumput, tegalan, pematang serta pinggiran jalan. Beberapa faktor yang menghambat penyediaan hijauan pakan, yakni terjadinya perubahan fungsi lahan yang sebelumnya sebagai sumber hijauan pakan menjadi lahan pemukiman, lahan untuk tanaman pangan dan tanaman industri (DJAJANEGARA, 1999). Dilain pihak, menurut KASRYNO dan SYAFA'AT (2000) bahwa sumberdaya alam untuk peternakan berupa padang penggembalaan di Indonesia mengalami penurunan sekitar 30%. Disamping itu secara umum di Indonesia ketersediaan hijauan pakan juga dipengaruhi oleh iklim, sehingga pada musim kemarau terjadi kekurangan hijauan pakan ternak dan sebaliknya di musim hujan jumlahnya melimpah. Untuk mengatasi kekurangan rumput ataupun hijauan pakan lainnya salah satunya adalah pemanfaatan limbah pertanian sebagai pakan. Dengan demikian untuk pengembangan ternak ruminansia di suatu daerah seharusnya dilakukan juga usaha untuk memanfaatkan limbah pertanian, mengingat sumber penyediaan rumput dan hijauan lainnya sebagai pakan sangat terbatas. Sumber limbah pertanian diperoleh dari komoditi tanaman pangan, dan ketersediaanya dipengaruhi oleh pola tanam dan luas areal panen dari tanaman pangan di suatu wilayah. Jenis limbah pertanian yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber pakan adalah jerami padi, jerami jagung, jerami kedelai, jerami kacang tanah, pucuk ubi kayu, serta jerami ubi jalar. Untuk mendukung pengembangan ternak ruminansia maka potensi limbah pertanian sebagai
sumber pakan perlu diketahui. Dalam makalah ini dianalisis dan dibahas sumberdaya pakan limbah pertanian yang berkaitan dengan potensi, daya dukung dan kemampuan masing-masing wilayah di Indonesia.

B. Menyusun Formula Ransum Sesuai Kebutuhan Ternak
Langkah-langkah menyusun ransum :
1. Ketahui bobot badan sapi untuk mengetahui kebutuhan gizi pokok hidup.
2. Ketahui kenaikan bobot badan harian untuk mengetahui kebutuhan gizi produksi.
3. Ketahui / hitung kebutuhan nutrien (TDN, PK dan BK dalam pakan sesuai tabel tersaji) yaitu jumlah dari kebutuhan TDN dan PK pokok hidup dan produksi.
4. Ketahui bahan pakan apa saja yang akan digunakan sebagai penyusun ransum.
5. Hitung jumlah bahan pakan yang digunakan sejumlah kandungan nutrien yang dibutuhkan sapi menggunakan patokan kandungan nutrien bahan dalam tabel tersaji (ransum satu hari).
6. Catatan konsumsi bahan kering 2 – 3% dari bobot badan.
7. Catatan perkiraan konsumsi hijauan 10% dari bobot badan.

Contoh Hitungan Ransum
Data : - Sapi bobot badan 400 kg
- Kenaikan bobot badan harian 1,6 kg
- Tersedia bahan pakan ternak terdiri dari hijauan jagung, bahan konsentrat terdiri dari empok, bekatul, polar, bungkil kedelai dan mineral pabrik.
- 1 kg TDN = 36,155 mkal ME
Pertanyaan :
Berapakah jumlah bahan pakan (hijauan jagung, campuran konsentrat) yang dibutuhkan ?

Jawab :
1. Kebutuhan gizi ternak
a. Kebutuhan pokok hidup / hari :
- Kebutuhan energi = 1,245 kg TDN / 45 mk ME
- Kebutuhan protein kasar = 325 gr
b. Kebutuhan produksi untuk kenaikan bobot badan harian 1,6 kg :
- Kebutuhan energi = 3,375 kg TDN 122 mk ME
- Kebutuhan protein kasar = 922 gr
c. Kebutuhan gizi ternak keseluruhan :
- Kebutuhan energi = 167 mkal ME / 4,62 kg TDN
- Kebutuhan protein kasar = 1.247 gr
2. Kebutuhan bahan pakan berdasarkan kandungan gizinya yang diperoleh dari hijauan
a. Hijauan jagung = 10% / BB = 40 kg
b. Kandungan energi hijauan jagung = 4,4 kg = 159 mkal ME
c. Kandungan PK hijauan jagung = 7/100 x 8.000 = 560 gr
d. Kekurangan protein sapi dari hijauan jagung = 1.247 gr – 560 = 687 gr
3. Konsentrat yang dibutuhkan
a. Kekurangan protein = 687 gr
b. Kandungan PK konsentrat 16%
c. Kebutuhan konsentrat = ((100/16) x 687) / 0,85 = 5,05 kg

Langkah Kerja Menyusun Ransum

No. Urutan Uraian
1. Tentukan bobot badan (BB). Lingkar dada (LD) = X cm, maka BB = Y kg
2. Tentukan pertambahan BB (PBB) dan prosentase pemberian pakan kasar. Misalnya :
PBB = Z kg dan pemberian pakan kasar= A% BK.

3. Tentukan kebutuhan nutrisinya. Gunakan tabel kebutuhan nutrisi :
Kebutuhan : BK (kg) TDN (kg) PK (gram)
B C D

4. Hitung pemenuhan kebutuhan BK dari pakan kasar. Kandungan BK dari pakan kasar
= A% x B
= E kg
5. Tentukan jenis hijauan yang akan digunakan dan kandungan nutrisinya. Misalnya hijauan jagung, dimana setiap kg mengandung :
BK = 282 gram; TDN = 168 gram; PK = 22,8 gram
6. Hitung jumlah pemberian hijauan. Hijauan jagung yang diberikan adalah =
E kg/BK hijauan jagung (kg) x 1 kg = F kg
7. Hitung kandungan nutrisi dari hijauan yang diberikan.
Hijauan jagung = F kg mengandung :
TDN = F kg x 168 gram = G gram
PK = F kg x 22,8 gram = H gram
8. Hitung kekurangan kebutuhan nutrisinya.
BK (kg) TDN (kg) PK (gr)
Kebutuhan : B C D
F kg hijauan jagung = F G/1000 H
Kekurangan B – F = I C – (G/1000) = J D – H = K


9. Tentukan mutu konsentrat.
TDN = J/I x 100% = ……%
PK = (K/1000)/I x 100% = ……%

Contoh 1:

No. Urutan Uraian
1. Tentukan bobot badan (BB). Misalnya lingkar dada (LD) = 143 cm, maka BB = 250 kg
2. Tentukan pertambahan BB (PBB) dan prosentase pemberian pakan kasar. Misalnya :
PBB = 0,7 kg dan pemberian pakan kasar= 55% BK.

3. Tentukan kebutuhan nutrisinya. Gunakan tabel kebutuhan nutrisi :
Kebutuhan : BK (kg) TDN (kg) PK (gram)
5,8 3,76 609

4. Hitung pemenuhan kebutuhan BK dari pakan kasar. Kandungan BK dari pakan kasar
= 55% x 5,8 kg
= 3,19 kg
5. Tentukan jenis hijauan yang akan digunakan dan kandungan nutrisinya. Misalnya hijauan jagung, dimana setiap kg mengandung :
BK = 282 gram; TDN = 168 gram; PK = 22 gram
6. Hitung jumlah pemberian hijauan. Hijauan jagung yang diberikan adalah =
3,19 kg/0,282 kg x 1 kg = 11,31 kg
7. Hitung kandungan nutrisi dari hijauan yang diberikan.
Hijauan jagung = 11,31 kg mengandung :
TDN = 11,31 kg x 168 gram = 1.900 gram =1,9 kg
PK = 11,31 kg x 22 gram = 249 gram
8. Hitung kekurangan kebutuhan nutrisinya.
BK (kg) TDN (kg) PK (gram)
Kebutuhan : 5,8 3,76 609
11,31 kg hijauan jagung = 3,19 1.900/1000 = 1,9 249
Kekurangan 2,61 1,86 360


9. Tentukan mutu konsentrat.
TDN = 1,86/2,61 x 100% = 71%
PK = 0,36/2,61 x 100% = 14%


Tabel Nutrisi Pakan Kasar dan Bahan Konsentrat

NAMA BAHAN KANDUNGAN DALAM 1 KG BAHAN PAKAN BERDASARKAN BK
BK(gr) TDN(gr) PK(gr) Ca(gr) P(gr) BK(%) TDN(%) PK(%)
I. PKN KASAR
1 R Gajah Muda 157,00 83,30 17,80 1,10 0,62 15,70 53,06 11,34
2 R Gajah Sedang 175,00 88,30 26,20 0,90 0,89 17,50 50,46 14,97
3 R Gajah Tua 206,00 108,90 17,00 1,00 0,63 20,60 52,86 8,25
4 Hjauan Jagung 282,00 168,00 22,00 0,70 0,78 28,20 59,57 7,80
5 Rumput Lapang 300,00 120,00 23,00 - - 30,00 40,00 7,67
6 Hijauan Tebu 279,20 150,00 15,00 - - 27,92 53,72 5,37
7 Hay Rumput 910,00 486,00 54,00 4,10 1,60 91,00 53,41 5,93
8 Jerami Kedelai 880,00 387,00 45,00 11,30 2,90 88,00 43,98 5,11
9 Silase Hijauan 350,00 234,00 45,00 11,30 2,90 35,00 66,86 12,86
10 Rumput Raja 180,00 95,00 14,00 0,70 0,50 18,00 52,78 7,78
11 Daun Pisang 100,00 60,00 9,00 0,70 0,20 10,00 60,00 9,00
12 Daun Singkong 150,00 93,00 37,50 1,50 0,75 15,00 62,00 25,00
13 Jerami Padi 850,00 357,00 34,00 3,40 2,50 85,00 42,00 4,00
14 Jerami Amoniasi 700,00 350,00 56,00 2,80 2,10 70,00 50,00 8,00
15 Lamtoro 220,00 149,00 46,20 1,10 0,60 22,00 67,73 21,00
16 Gamal 220,00 143,00 44,00 1,10 0,60 22,00 65,00 20,00
17 Kaliandra 200,00 130,00 40,00 1,00 0,60 20,00 65,00 20,00

II. B
1 Pollard 860,00 681,00 160,00 1,50 8,25 86,00 79,19 19,60
2 Dedak Kasar 860,00 430,00 62,00 0,86 6,88 86,00 50,00 7,21
3 Dedak Halus 860,00 584,80 103,20 0,86 12,00 86,00 68,00 12,00
4 Empok Jagung 860,00 705,20 86,00 0,86 2,58 86,00 82,00 10,00
5 Bungkil Kelapa 860,00 670,00 185,00 1,37 6,19 86,00 77,91 21,51
6 Bungkil Kedelai 890,00 754,00 441,00 11,10 4,30 89,00 84,72 49,55
7 Ampas Tahu 100,00 72,00 20,00 - - 10,00 72,00 20,00
8 Bungkil Kapuk 860,00 627,80 258,00 6,80 27,50 86,00 73,00 30,00
9 Tepung Ikan 920,00 680,80 612,70 51,60 28,00 92,00 74,00 66,60
10 Tepung Daging 930,00 706,80 531,00 78,90 40,00 93,00 76,00 57,10
11 Tepung Susu 930,00 1.222,00 252,80 8,36 6,76 93,00 131,40 27,18
12 Tepung Skim 940,00 806,40 338,00 11,75 9,68 94,00 85,79 35,96
13 Susu Segar 120,00 156,00 30,90 1,06 1,86 12,00 130,00 25,75
14 Skim Segar 100,00 93,00 36,00 1,40 1,17 10,00 93,00 36,00
15 Gamblong 160,00 99,20 3,20 1,10 0,16 16,00 62,00 2,00
16 Tetes 830,00 581,00 33,20 7,50 0,83 83,00 70,00 4,00
17 Tepung Tulang 950,00 615,20 120,00 289,80 135,90 95,00 64,76 12,63
18 Dicasium Phospat 960,00 - - 227,50 180,90 96,00 - -
19 Tepung Gamping 1.000,00 - - 360,70 0,20 100,00 - -
20 Natrium Phospat 870,00 - - - 224,40 87,00 - -
MENYUSUN FORMULA KONSENTRAT

A. Bahan Pakan Penyusun Konsentrat
Konsentrat adalah pakan yang mengandung serat kasar, atau bahan yang tak tercerna relatif rendah, sehingga mempunyai daya cerna tinggi karena mempunyai kandungan serat kasar rendah yaitu dibawah 20%, dengan TDN lebih dari 60%. Yang termasuk dalam golongan ini ialah biji – bijian dengan hasil ikutannya dan produk asal hewan (Srigandono, 1987). Jenis pakan konsentrat antara lain dedak padi, bungkil kelapa, ampas tahu, ampas kecap, bungkil kedelai, polard, onggok, dan lain – lain (Sutardi, 1981). Menurut Schmidt (1971), pakan konsentrat berfungsi sebagai penambah energi, disamping mengandung protein tinggi dan kandungan serat kasar kurang dari 18% serta mudah dicerna (Prihadi, 1996). Bahan pakan yang digunakan sebagai penyusun konsentrat memerlukan pertimbangan yang antara lain adalah :
1. Berapa harga satuan bahan tersebut.
2. Apa saja gizi yang terkandung di dalamnya.
3. Berapa kandungan gizi dalam bahan pakan.
4. Bagaimana kontinyuitas ketersediaan bahan pakan setiap waktu/hari yang dibutuhkan.
5. Dari mana didapatkan bahan pakan tersebut.

B. Metode Formulasi Konsentrat
Bila bahan pakan konsentrat sudah dipilih, harga sudah diperhitungkan selanjtnya ditentuka metode memformulasikan. Ada beberapa metode hitungan yang dapat digunakan untuk memudahkan membuat formulasi konsentrat, diantaranya adalah :
1. Metode coba- coba (Trial and error method).
Metode ini sering pula disebut cut and try method. Metode ini dilakukan dengan cara mencoba – coba dan memerlukan pengalaman melalui latihan – latihan. Pada umumnya, metode ini digunakan untuk membuat formulasi konsentrat sesuai dengan kualitas yang diinginkan. Bahan pakan yang akan digunakan dalam metode formulasi ini harus terdiri dari lebih dua jenis.
2. Metode Pearson’s Square.
Metode ini digunakan untuk mendapatkan kandungan satu zat gizi, misalnya protein atau energi saja, dari dua jenis pakan yang akan diformulasikan menjadi ransum.
3. Metode Algebra.
4. Linear Programming.
Metode linear programmingdalam formulasi ransum ternak memerlukan pengetahuan tentang perhitungan simpleks (simplex computation). Untuk memudahkan perhitungan, digunakan teori masalah ganda dimana persamaan dalam bentuk maksimalisasi yang selanjutnya disusun suatu tabel simpleks awal. Pada umumnya merupakan metode penganalisaan yang biasanya digunakan dalam menggunakan komputer.

Contoh Perhitungan Membuat Formula Konsentrat.
Contoh perhitungan penyusunan konsentrat dengan metode coba-coba yang diinginkan mengandung BK diatas 85%, TDN diatas 75% dan PK diatas 17% adalah :

Langkah Pertama :
Pilih bahan pakan yang akan digunakan yang mengandung gizi sumber karbohidrat dan protein sesuai kondisi ketersediaan bahan konsentrat yang tersedia misalnya dedak jagung, bekatul/dedak padi, bungkil kelapa, pollard (dedak gandum) dan bungkil kedelai.
Langkah kedua :
Lihat analisa knadungan gizi sumber energi (TDN) dan protein kasar dari masing-masing bahan yang digunakan di daftar tabel bahan pakan. Apabila bahan yang digunakan tidak tercantum dalam daftar tabel bahan pakan, maka dapat dianalisakan di laboratorium. Dari daftar tabel diperoleh daftar kandungan gizi sebagai berikut :
Bahan Pakan Bahan Kering (%) TDN (% BK) Protein Kasar
(%BK)
Dedak jagung 84,8 82 8,5
Dedak padi halus 89,6 67 8,68
Pollard 88,4 70 17
Bungkil kelapa 87,9 81 21,2
Bungkil kedelai 88,6 83,2 41,3

Langkah ketiga :
Periksa penggunaan batas maksimum dan minimum penggunaan bahan pakan terpilih tersebut untuk mempersingkat proses perhitungan coba-coba sehingga menghemat waktu.
Langkah Keempat :
Membuat tabel metode coba – coba dan menghitung masing – masing kandungan nutrisi sebagai berikut :
Bahan Pakan % / bagian BK (%) TDN
(% BK) PK (%BK)
Dedak jagung 20 15,92 16,40 1,70
Dedak padi halus 30 26,88 20,10 2,60
Pollard 25 22,10 17,50 4,21
Bungkil kelapa 15 13,19 12,15 3,18
Bungkil kedelai 10 8,86 8,32 4,13
Total 100 86,95 74,47 15,82
Kebutuhan Diatas 85 Diatas 75 Diatas 17

Dari tabel tersebut diatas terlihat bahwa TDN dan PK masih kurang dari kandungan yang diinginkan, untuk itu diperlukan perubahan (peningkatan) jumlah atau bagian yang mengandung TDN tinggi dan PK tinggi seperti pada bungkil kedelai dan kurangi bagian yang lain yang mengandung gizi berlawanan dengan bungkil kedelai.

Langkah kelima :
Bahan Pakan % / bagian BK (%) TDN (% BK) PK (%BK)
Dedak jagung 20 15,92 16,40 1,70
Dedak padi halus 25 22,40 16,75 2,17
Pollard 25 22,10 17,50 4,21
Bungkil kelapa 15 13,19 12,15 3,18
Bungkil kedelai 15 13,29 12,48 6,20
Total 100 86,90 75,28 17,46
Kebutuhan Diatas 85 Diatas 75 Diatas 17
Bandingkan kandungan gizi dan harga formula konsentrat yang dibuat dengan kandungan gizi dan harga konsentrat yang ada di pasaran, apabila konsentrat yang anda buat lebih mahal atau gizinya lebih rendah, maka formulasi dapat diubah kembali dengan kembali ke langkah sebelumnya.
D. LANGKAH KERJA MENYUSUN FORMULA KONSENTRAT

Selain itu dapat pula menggunakan cara yang lain dengan memakai selisih (nilai deviasi) dari tiap – tiap bahan pakan. Langkah – langkah yang digunakan cukup mudah untuk diikuti seperti berikut ini :

No. Urutan Uraian
1. Tentukan kandungan PK dan TDN konsentrat yang akan dibuat (Lihat hasil penyusunan ransum) Misalnya kandungan konsentrat dalam 1 kg :
PK = a gram (14% =140 gram)
TDN = b gram (71% = 710 gram)

2. Tentukan bahan konsentrat yang akan digunakan Misalnya :
Bungkil kedelai, Bungkil kelapa, Empok jagung dan Dedak halus.
3. Catat kandungan PK dan TDN dari setiap bahan pakan yang akan digunakan Gunakan tabel kandungan nutrisi :
Bahan pakan Dalam 1 kg mengandung
PK (gram) TDN (gram)
Bk. Kedelai
Bk. Kelapa
Empok jagung
Dedak halus

4. Hitung nilai deviasi PK dari setiap bahan pakan
Bahan pakan PK bahan PK Target Selisih
Bk. Kedelai a C
Bk. Kelapa a D
Empok jagung a E
Dedak halus a F

5. Tentukan angka faktor pengkali dari setiap bahan pakan (misalnya g, h, i dan j) sedemikian rupa sehingga jumlah hasil perkaliannya antara nilai deviasi dengan faktor pengkali = 0 (nol). Bahan pakan Selisih Faktor pengkali
Bk. Kedelai = C x G = K
Bk. Kelapa = D x H = L
Empok jagung = E x I = M
Dedak halus = F x J = N
Jumlah Y 0

Syarat : K + L + M + N = 0 (nol)
6. Tentukan formula konsentrat Bahan pakan
Bk. Kedelai = G/Y x 100% = …..%
Bk. Kelapa = H/Y x 100% = …..%
Empok jagung = I/Y x 100% = …..%
Dedak halus = J/Y x 100% = …..%

7. Lakukan pengecekan terhadap kandungan TDN konsentrat yang telah disusun. Gunakan tabel kandungan nutrisi bahan pakan yang digunakan.
8. Lakukan perhitungan kembali seperti di atas dengan mengubah angka faktor pengkali, bila ternyata nilai TDN tidak seperti yang dikehendaki.

Contoh 1:
No. Urutan Uraian
1. Tentukan kandungan PK dan TDN konsentrat yang akan dibuat (Lihat hasil penyusunan ransum) Misalnya kandungan konsentrat dalam 1 kg :
PK = a gram (14% =140 gram)
TDN = b gram (71% = 710 gram)

2. Tentukan bahan konsentrat yang akan digunakan Misalnya :
Empok jagung dan pollard.
3. Catat kandungan PK dan TDN dari setiap bahan pakan yang akan digunakan Gunakan tabel kandungan nutrisi :
Bahan pakan Dalam 1 kg mengandung
PK (gram) TDN (gram)
Empok jagung 86 705,2
Pollard 160 681

4. Hitung nilai deviasi PK dari setiap bahan pakan
Bahan pakan PK (%) bahan PK (%) Target Selisih
Empok jagung 10 14 -4
Pollard 18,6 14 4,6


5. Tentukan angka faktor pengkali dari setiap bahan pakan (misalnya g, h, i dan j) sedemikian rupa sehingga jumlah hasil perkaliannya antara nilai deviasi dengan faktor pengkali = 0 (nol). Bahan pakan Selisih Faktor pengkali
Empok jagung = -4 x 1 = -4
Pollard = 4,6 x 0,87 = 4
Jumlah 1,87 0

Syarat : K + L = 0 (nol)
6. Tentukan formula konsentrat Bahan pakan
Empok jagung = 1/1,87 x 100% = 53,5%
Pollard = 0,87/1,87 x 100% = 46,5%


7. Lakukan pengecekan terhadap kandungan TDN konsentrat yang telah disusun. Gunakan tabel kandungan nutrisi bahan pakan yang digunakan.
8. Lakukan perhitungan kembali seperti di atas dengan mengubah angka faktor pengkali, bila ternyata nilai TDN tidak seperti yang dikehendaki.

Materi Pelatihan Perkandangan Sapi

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar belakang

Perkembangan sapi potong di Indonesia masih perlu ditingkatkan , mengingat kebutuhan daging sapi masih terbuka, karena persedian bakalan sapi potong jumlahnya kurang memadai dengan permintaan kebutuhan pasar,
Bangsa sapi potong yang bisa diusahakan antara lain sapi Bali, sapi Madura, sapi Ongole dan sapi dari luar negeri seperti Simental, Limousin, sapi jantan FH dll.
Usaha pembibitan dan penggemukan sapi potong di Indonesia pada umumnya merupakan usaha sampingan dengan skala usaha sekitar 1-3 ekor yang menggunakan teknologi sederhana, adapun pemeliharaan didaerah dataran rendah cenderung untuk pembibitan sedang daerah dataran tinggi cenderung untuk penggemukan. Mulai nampak adanya pemilihan bangsa sapi pemeliharaan yang produktif lebih digemari oleh peternak. Cara pemeliharaan didaerah intensif pertanian cenderung dikandangkan sedangkan daerah pertanian ekstensif di lepas di padang penggembalaan.
Dimasa yang akan datang pembibitan sapi potong diarahkan kedaerah yang lahannya cukup luas, karena persediaan pakan ternak yang memadai akan menghasilkan bakalan yang berkualitas untuk bibit atau penggemukan sampai saat ini jumlahnya masih terbatas, dengan adanya kandang semua aktivitas usaha dapat lebih mudah dilakukan seperti : memberikan pakan , mengiseminasi, mencatat pertumbuhan sapi mengumpulkan limbah ternak, dll, dengan demikian jarak lokasi kandang diupayakan minimal 10 meter dari rumah dan sebaiknya menggunakan bahan bangunan yang murah, tahan lama, dan mudah diperoleh diwilayah tersebut.
Dalam merencanakan bangunan kandang bisa dirancang dengan menggunakan bahan baku bangunan sederhana dan mudah diperoleh diwilayah usaha yang lebih dekat. Dengan disediakan kandang lebih mudah untuk memelihara ternak dan mengatur rencana pemeliharaan yang direncanakan lebih lanjut.

B. Diskrepsi singkat
Mata latihan ini membahas tentang merencanakan kandang sapi potong yang meliputi: pengertian kandang sapi potong, ketentuan kandang sapi potong, kandang pembibitan, kandang penggemukan, perlengkapan kandang. Pola pasture, intensif dan kombinasi

C. Manfaat merancang kandang sapi potong.
Manfaat merancang kandang sapi potong, adalah :
1. Memperoleh bentuk dan model kandang yang lebih mudah untuk pemeliharaan ternak.
2. Mengetahui luas dan mutu bangunan yang akan digunakan
3. Sebagai bahan acuan dalam pengembangan usaha sapi potong.

D. Tujuan pembelajaran
a. Kompetensi dasar
Setelah selesai menyelesaikan materi pembelajaran ini, peserta pelatihan diharapkan dapat merancang kandang sapi potong dengan benar. mengikuti proses

b. Indikator keberhasilan
Setelah menyelesaikan seluruh rangkaian pembelajaran ini, peserta pelatihan dapat:
1. Menjelaskan pengertian kandang sapi potong dan ketentuan perkandangannya
2. Menjelaskan kandang pembibitan intensif
3. Menjelaskan kandang penggemukan intensif
4. Menjelaskan perlengkapan kandang
5. Merancang kandang pola pemeliharaan pasture
6. Merancang kandang pola pemeliharaan kombinasi


E. Materi pokok dan sub materi pokok
Bahan ajar ini terdiri dari 4 bab dengan perincian sebagai berikut:
Bab I. Pendahuluan, dalam bab ini peserta dapat memperoleh informasi tentang latar belakang, diskripsi singkat, manfaat bahan ajar, tujuan, materi dan petunjuk pelatih dalam proses pembelajaran.
BabII. Ketentuan kandang sapi potong

F. Petunjuk Belajar
Bahan ajar ini merupakan pokok-pokok dasar mengenai kegiatan merancang kandang sapi potong, sehingga diharapkan peserta sebagai penyuluh sudah bisa merancang kandang sapi potong dengan benar.
Untuk mempelajarai bahan ajar ini, hal-hal yang perlu diperhatikan antara lain:
1. Peserta hendaknya memiliki motivasi dasar tentang perkandangan sapi potong dan memahami merancang kandang sapi potong dalam kegitan penyuluhan yang dilakukan dengan benar.
2. Peserat selama prose pembelajaran dapat mengikuti secara aktif, tanya jawab dan praktek.
3. Membaca dengan seksama dan berlatih menjawab pertanyaan latihan dari setiap bab, yang belum dikuasai agar membaca ulang.
4. Buatlah rangkuman sesuai dengan pemahaman anda sehingga memudahkan dalam materi tersebut.
5. Bisa menambah referensi yang lain, untuk menambah wawasan ilmu perkandangan sapi potong.

BAB II
KETENTUAN KANDANG

A. Pengertian kandang sapi potong

Kandang pembibitan atau penggemukan sapi potong adalah kandang yang dirancang untuk hidup sapi dalam proses usaha pembibitan/penggemukan pada periode tertentu, mulai dari pedet, sapi dara dan sapi dewasa secara baik, aman, sehat, dan cukup pergerakan .

B. Fungsi kandang
Kandang merupakan tempat untuk berlindung ternak dari gangguan iklim, kesibukan masyarakat, binatang pemangsa dan yang lainnya, sehingga dengan adanya bangunan tersebut sapi dapat hidup: makan, minum, berdiri, tidur, bergerak cukup, tumbuh dengan baik.


C. Hal-hal yang perlu diperhatikan pada kandang sapi potong
1. Ventilasi
Untuk memperoleh udara segar dan sejuk dalam kandang, keadaan ventilasi dalam kandang perlu dibuat lebih luas dan bila daerahnya lebih panas bisa dibuat ventilasi terbuka pada sekeliling kandang, agar sirkulasi udara disekitar kandang lebih lancar dan suhu udara lebih sejuk.

2. Atap
Keadaan suhu udara dalam kandang juga dipengaruhi oleh ketinggian dan bahan baku atap kandang yang dipergunakan, sehingga sebelum merancang kandang perlu survay lapangan bahan baku yang tersedia mempunyai daya isolasi yang baik seperti genteng tanah. Sedangkan ketinggian atap pada daerah yang suhunya panas lebih tinggi dari 2,75 M.

3. Pergerakan sapi
Sapi setiap hari senantiasa cukup leluasaan dalam kandang dan dapat beraktivitas: makan, minum, berdiri, tidur, dan sapi tidak terganggu oleh :
a. Konstruksi tempat pakan dan minum yang tinggi
b. Kondisi lantai kandang yang tidak rata dan licin
c. Bagian kandang yang tajam

4. Kesehatan
Sapi agar tetap sehat dalam kandang tumbuh gemuk dengan baik maka perlu disiapkan kondisi pedukungnya antara lain :
a. Keadaan udara dalam kandang sesuai dengan kebutuhan sapi
b. Lantai kandang rata tidak licin dan tetap kering
c. Kandang ada penerangan malam hari
d. Konstruksi tempat pakan, minum, lantai, selokan mudah dibersihkan

5. Effisiensi kerja
Dalam melakukan kerja segala aktivitas dalam kandang dapat dikerjakan dengan mudah, murah dan cepat dalam hal :
a. Membersikan tempat pakan, minum, lantai, selokan dan lainnya
b. Mudah memperoleh air bersih
c. Mudah membuang faeces dan kegiatan yang lainnya

6. Ekonomis bangunan
Perlu diketahui dalam merancang kandang sapi perah perlu digunakan bahan yang paling murah sesuai dengan prinsip-prinsip pembuatan kandang penggemukan sapi potong yaitu menurut kebutuhan sapi dan orang yang akan melakukan kegiatan dalam kandang

D. KETERSEDIAAN BAHAN BANGUNAN
Bahan bangunan yang bisa digunakan untuk kandang sapi perah antara lain
No Bagian kandang Bahan bangunan yng dapat digunakan
1 Atap kandang Genteng tanah/semen, Bambu anyam berlapis plastik, Kayu
2 Tempat pakan Beton. Plastik, Kayu, Karet
3 Sekat tp pakan Kayu, pipa besi
4 Tempat minum Plastik, Karet, Beton, Logam
5 Lantai kandang Beton berlapis karet, Kayu tebal,
6 Sekat sapi Pipa, kayu
7 Selokan Beton
Penutup selokan Besi , Kayu

BAB III
KANDANG PEMBIBITAN atau PENGGEMUKAN


A. Sistem ikat/ individu
Ukuran kandang per ekor sistem ikat meliputi:

No Instalasi kandang Pedet Dara kecil Dara sedang Dewasa
1 Lebar tempat pakan 25 cm 70 cm 70 cm 70 cm
2 Tinggi tempat pakan 75 cm 5 cm 5 cm 5 cm
3 Lb Sekat tempat pakan 110-130 cm 120-140 cm 130-150 cm
4 Tinggi tempat minum 35 cm 55 cm 55 cm 55 cm
5 Diameter tempat minum 30 cm 50x40x30 cm 50x40x30 cm 50x40x30 cm
6 Lebar lantai 90-100 cm 120-140 cm 130-150cm 150-200 cm
7 Panjang lantai 120-150 cm 150-160cm 160-180 cm 200-220 cm
8 Kemiringan lantai peleps 1,2 –1,5 cm 1,4-1,7 cm 1,6-2 cm
9 Tinggi sekat tempat tidur
10 Lebar selokan 30 cm 50 cm 50 cm 50 cm
11 Dalam selokan 15 cm 25 cm 25 cm 25 cm
12 Gang depan 150cm 100 cm 100 cm 100 cm
13 Ketinggian atap 275 cm 300 cm 300 cm 300 cm
14 Tempat alat-alat susu 300 cm²
15 Gudang pakan 300 cm²


B. Sistem lepas
Ukuran kandang per ekor sistem lepas meliputi:

No Instalasi kandang Pedet Dara kecil Dara sedang Dewasa
1 Lebar tempat pakan 25 cm 70 cm 70 cm 70 cm
2 Tinggi tempat pakan 75 cm 5 cm 5 cm 5 cm
3 Lebar Sekat tpt pakan 20 cm 20 cm 20 cm
4 Tinggi tempat minum 35 cm 55 cm 55 cm 55 cm
5 Diameter tempat minum 30 cm 70x60x30 cm 70x60x30 cm 70x60x30 cm
6 Lebar tempat tidur 90-100 cm 100 -120 cm 110-130 cm 120 -140 cm
7 Panjang tempat tidur 130-150 cm 200 -230 cm 220-240 cm 230-250 cm
8 Kemiringan lantai peleps 1,5 cm 2 cm 2,5 cm
9 Tinggi sekat tempat tidur 70-90 cm 75-100 cm 80-110 cm
10 Lebar selokan 30 cm 20 cm 20 cm 20 cm
11 Dalam selokan 15 cm 5 cm 5 cm 5 cm
12 Tempat pelepasan 350 cm² 400 cm² 500 cm²
13 Gang depan 150cm 100 cm 100 cm 100 cm
14 Ketinggian atap 275 cm 300 cm 300 cm 300 cm
15 Tempat alat-alat susu 300 cm²
16 Gudang pakan 300 cm²


BAB V
PERLENGKAPAN KANDANG



A. Peralatan
Untuk kelengpan kandang perlu disediakan peralatan untuk membersikan kandang seperti sekop, sikat lantai kandaang gerobak dorong, ember untuk memberikan susu pada pedet dll,
B. Gudang
Gudang yang diperlukan gudang pakan ternak baik pakan berserat atau konsentrat
C. Tempat pengolahan limbah
Tempat pengolahan limbah direncanakan sesuai dengan jumlah kepemilikan sapi ( untuk 3-5 ekor sapi perlu biogas 9-10 m3 )

BAB VI
PENUTUP

Merencanakan salah satu informasi yang dibutuhkan oleh peternak/masyarakat dalam pengembangan usaha agribisnis sapi potong , namun belum semua orang memahami dengan baik informasi tersebut, melalui pelatihan agribinis sapi potong akan memacu percepatan pembangunan peternakan. Dengan bantuan modul ini para peserta atau masyakat dapat lebih mengerti dan lebih mudah untuk mempelajari bagaimana cara merencanakan kandang sapi potong
Disamping itu materi ini kami bisa dipahami untuk membantu pengembangan agribisnis sapi potong di wilayah kerja peserta pelatihan.,



DAFTAR PUSTAKA



Adi Wijayanto, 1983. Perkandangan Batu-Malang
Agus murtijo, 1992, Beternak sapi potong.Yogyakarta.
Brouwer, 1975, Dairy herd, Ministry of Agriculture, The Netherland
Diggins and Brendy 1962, Beef production practice hall, new York
Erik Kijne, 1980. Housing and practical training in animal husbandry, Leuwarden, The Fauzi.
Netherland
Hall and Sansoucy,1981, Open yard housing FAO, Rome
Luthan, 2006. Program Pengembangan Direktorat Jenderal Peternakan. Departemen Pertanian. Jakarta
John,1980, Beef cattle production. University of Missouri. Columbia
Prayogo and Han , 2002, Pembibitan sapi potong. BPPT,
Wardii, 1994, Dairy farming, GKSI, Jakarta

Limbah VCO Alternatif Pakan Ruminansia

VCO (Virgin coconut oil) saat ini memang sedang dalam masa keemasan. Banyak orang mulai membuat dan memproduksi VCO, seperti rekan kami yang mengemas produk berlabel Lisah Kalapa.

Salah satu by-product (limbah) dari produksi VCO ini adalah bungkil atau ampas kelapa. Daging kelapa yang dalam pembuatan VCO hanya diambil santan-nya saja tersebut terkadang hanya dibuang begitu saja. Padahal berat daging kelapa yang adalah sekitar 34% - 42% dari keseluruhan buah kelapa (Hutagalung, 1981) itu masih mengandung nutrisi yang berguna bagi ternak, khususnya hewan ruminansia besar. Daging buah kelapa mengandung 18% protein kasar, 8% lemak, 12% serat kasar dan sekitar 6,3 - 7 KJg energi yang dapat di metabolis (Hutagalung, 1981).
Beberapa penelitian dan fakta dari literatur yang penulis baca juga mengungkapkan hal tersebut (FAO, 1995).
Belum lagi literatur lain yang menunjukkan bahwa pemberian lemak dalam tingkat tertentu memperlihatkan hasil yang positif dari sisi reproduksi dan kesuburan ternak.


Beberapa fakta lapangan di Cijayana, Garut selatan (tempat Lisah Kalapa diproduksi) juga meng-aminkan hal tersebut. Sapi sapi pedaging dari jenis lokal dan PO (Peranakan Ongole) yang diberi ampas kelapa dan kanil hasil produksi VCO memperlihatkan hasil yang positif dari sisi reproduksi.

Berkaitan dengan hal tersebut penulis ingin mencobakan hal yang sama pada sapi perah di Manglayang Farm. Setelah berburu kesana kemari (di Bandung ternyata agak sulit mendapatkan ampas kelapa), akhirnya kami berhasil mendapatkan ampas ini dari produsen VCO di salah satu universitas terkenal di Bandung.

Sejauh ini (percobaan baru berlangsung 1 minggu) pemberian ampas kelapa ternyata memberikan beberapa fakta awal yang menarik.

Percobaan pada sapi perah Fresian Holstein yang produktif pada konsentrasi ampas kelapa 1 - 2 kg / hari belum berpengaruh signifikan terhadap kuantitas produksi susu. Jumlah produksi sampai saat ini masih relatif stabil.
Namun mayoritas sapi memperlihatkan respon yang sama, makan cukup lahap pada saat pemberian pertama kali, tetapi besoknya cenderung malas makan, bahkan ketika diberi rumput pun jadi ogah ogahan. Kondisi ini berlangsung sekitar 2 - 3 hari. Kami rasa hal ini disebabkan feeding stress, perut ternak kaget dengan perubahan pakan yang drastis. Apalagi hal ini dibarengi dengan kondisi ketersediaan pakan konsentrat dan ampas tahu (yang biasa diberikan pada ternak) yang pada saat percobaan dimulai tidak tersedia seperti biasa.

Beberapa fakta dan literatur juga menunjukkan bahwa volume dan kualitas pakan yang diberikan pada sapi perah Fresian Holstein sebaiknya stabil dan jangan dilakukan perubahan yang mendadak. Hal tersebut terjadi karena ternak mengkonsumsi terlalu banyak zat tepung atau gula dalam bentuk karbohidrat sehingga rumen menjadi asam, penyakit ini disebut acidosis.

Namun ada satu kasus pada sapi dara bunting yang jadi tidak mau makan sama sekali (acidosis akut) setelah diberikan ampas kelapa. Berbagai cara sudah dicoba untuk merayu sapi ini agar mau makan, sampai akhirnya pada pagi hari ini terpaksa diberikan treatment pengobatan larutan preparat calcium dan multi vitamin karena ternak bersangkutan menunjukkan kondisi yang semakin parah, bahkan sampai lumpuh dan tidak bisa bangun. Wow.
Sore tadi kondisinya masih juga belum membaik, bahkan semakin buruk dengan terdeteksinya kembung (bloat) di rumen sebelah kiri yang memaksa kami untuk memberikan lagi tambahan obat anti kembung dan mempersiapkan trokar untuk mengeluarkan gas di dalam rumen secara paksa apabila obat tidak berhasil. Wah seru juga nih :) .

Jadi pelajaran yang dapat kami ambil dari peristiwa ini adalah, jangan merubah menu pakan ternak dengan mendadak, baik volume maupun jenisnya. Perubahan menu harus dilakukan secara gradual, apalagi bila ternak belum terbiasa dengan menu makanan baru dan dalam kondisi yang kurang sehat.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Total Tayangan Laman

Copyrights  © edna disnak 2012 and introducing Panasonic S30

Back to TOP