Senin, 09 Mei 2011

Kenari Lokal


Maraknya burung kenari di Indonesia membuat meluasnya pasar burung kenari. Seiring waktu orang mulai mengenal berbagai macam jenis kenari, baik yang import ataupun yang lokal. Kali ini saya berusaha menulis pengalaman tentang burung kenari lokal yang imut tersebut.
Mungkin orang bertanya-tanya mengapa ada sebutan dan definisi kenari lokal? Lantas jika begitu apakah ada kenari regional dan internasional? Yang paling mudah dalam menjawab apa itu kenari lokal adalah melihat dari aspek lingkup perkembangbiakannya sekaligus habitatnya. Burung kenari pada mulanya memang ditemukan di kepulauan Canary dan Azores (untuk melihat sejarah burung kenari bisa klik di sini). Disebut kenari lokal karena kenari tersebut telah dikembangbiakkan lama di Indonesia. Saat ini kenari lokal yang kita jumpai mempunyai aneka ragam warna seperti hijau, kuning, sunkist dan bon.
Hingga sekarang ini pengembangan kenari lokal terbesar di Indonesia masih berada di kota Malang, Jawa Timur. Kemudian menyebar di beberapa wilayah di Indonesia dan hingga sekarang dapat kita temui di pasar-pasar burung di hampir setiap daerah di Indonesia. Kenari lokal yang berada di Indonesia sekarang ini sebagian besar dulunya berasal dari China, Taiwan dan beberapa negara Asia lainnya. Faktanya burung kenari lokal yang sering disebut sebagai kenari holland ini ternyata tidak berasal dari Belanda (Holland).
Beberapa sumber tertulis mencatat bahwa dulu banyak ditemui kenari yang disebut lokal ini di beberapa pasar burung dengan berbagai jenisnya seperti fusan dan kenari belgia. Namun sekarang strain kenari ini perlahan sudah mulai kabur di pasaran sehingga sampai sekarang kita menyebut kenari lokal adalah kenari yang mempunyai badan kecil atau identik dengan postur yang kecil.


Fakta Tidak Benar Soal Burung Kenari Lokal
Karena maraknya burung kenari import ataupun silangannya maka perlahan-lahan muncul asumsi serta pendapat miring soal kenari lokal ini. Faktanya orang seringkali tanpa sebab menuduh bahwa kenari lokal adalah kenari yang:
  1. tidak berkompeten
  2. memiliki volume dan lagu yang buruk
  3. tidak berkarakter sehingga tidak cocok untuk lomba
  4. mempunyai tingkat kecerdasan yang rendah sehingga sulit untuk dimaster 
Beberapa pendapat di atas sangatlah tidak benar. Sebelum kita mengenal adanya kenari f1,f2,f3 dan sebagainya kenari lokal sangatlah favorit dalam urusan lomba burung berkicau. Faktanya beberapa rekor dan kelebihan dalam lomba kenari tercetak dari kenari lokal, misalnya saja kicauan terpanjang, volume tembus dan lain-lain. Bahkan keunggulan nomer 1 yang tidak bisa disangkal adalah bahwa kenari lokal ini mempunyai tingkat produktivitas yang sangat tinggi. Ini dibuktikan bahwa indukan betina lokal kerap menghasilkan banyak telur bahkan satu ekor betina pada umumnya bisa menghasilkan 5 telur.



Dilema Burung Kenari Lokal
Perlahan tapi pasti kenari lokal menjadi kurang populer dan ditinggalkan. Hal ini mungkin saja karena penggemar kenari ingin mencoba sesuatu hal yang baru dengan burung kenari jenis import. Jika ini terus berlangsung maka bisa jadi harga pasaran kenari lokal akan sangat anjlok, namun kekhawatiran yang paling utama adalah tidak lestarinya lagi jenis kenari lokal ini alias punah di Indonesia. Dengan maraknya kenari silangan import seperti F1 yorkshire dan yang lainnya maka juga secara tidak langsung berdampak pada pergeseran pasar kenari secara nasional.
Untung saja lomba burung berkicau di kelas kenari sekarang ini masih banyak peserta yang menampilkan burung kenari lokal sebagai gacoannya. Hal positif lainnya adalah event lomba kenari juga masih menyisakan kelas kenari lokal dan reguler, contohnya saja seperti lomba kenari yang diadakan oleh Papburi.

Untuk hal itu maka sebaiknya para penggemar burung berkicau khususnya kenari bersama-sama mampu memilih dan memilah serta tidak mengecap satu jenis kenari lebih unggul daripada jenis lainnya. Kesukaan itu adalah hal yang subjektif namun ilmu pengetahuan itu adalah hal yang objektif. Salam Kenari Mania


Tips Sehat Alami


0 komentar:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Total Tayangan Laman

Copyrights  © edna disnak 2012 and introducing Panasonic S30

Back to TOP